Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Bank Dunia Peringatkan Krisis Lapangan Kerja, Dunia Defisit 800 Juta Pekerjaan

Bank Dunia Peringatkan Krisis Lapangan Kerja, Dunia Defisit 800 Juta Pekerjaan
Para pencari kerja melihat lowongan pekerjaan pada kegiatan job fair di Universitas Muhammadiyah Mataram, Sabtu (9/8/2025). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Jakarta, FORTUNE - Pertemuan para pejabat keuangan global di Washington pekan ini berlangsung di bawah bayang-bayang konflik Timur Tengah yang kian memanas. Ketegangan tersebut tidak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia. Bank Dunia mengingatkan bahwa ancaman yang lebih besar justru datang dari persoalan struktural jangka panjang: krisis lapangan kerja global.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyoroti potensi ketidakseimbangan besar antara jumlah tenaga kerja baru dan ketersediaan pekerjaan. Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, sekitar 1,2 miliar penduduk di negara berkembang diperkirakan akan memasuki usia produktif. Namun, kapasitas ekonomi saat ini hanya mampu menciptakan sekitar 400 juta lapangan kerja. Artinya, terdapat potensi kekurangan hingga 800 juta pekerjaan yang berisiko memicu instabilitas sosial dan ekonomi.

Kesenjangan ini dinilai bukan sekadar persoalan angka, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas global. Tanpa intervensi yang memadai, lonjakan pengangguran dapat memperburuk kemiskinan ekstrem, meningkatkan migrasi ilegal, serta memicu konflik sosial di berbagai wilayah.

“Saya belum yakin apakah dalam 15 tahun ke depan semua kebutuhan populasi bisa terpenuhi. Namun, jika ini tidak segera ditangani, dampaknya akan sangat signifikan bagi kestabilan dunia dan memicu peningkatan jumlah orang yang pindah negara secara ilegal,” kata Ajay Banga, dilansir Daily Sabah.

Peringatan tersebut diperkuat oleh data Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menunjukkan lebih dari 117 juta orang telah meninggalkan tempat tinggal mereka hingga 2025. Angka ini berpotensi terus meningkat jika penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengejar pertumbuhan populasi usia kerja.

Di sisi lain, situasi geopolitik global turut memperumit tantangan tersebut. Konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta konflik paralel di Lebanon, menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi global. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata sementara, ketidakpastian masih tinggi, terutama dengan adanya pembatasan akses di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia.

Dampaknya mulai tercermin pada proyeksi ekonomi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan negara berkembang akan melambat menjadi sekitar 3,65 persen pada 2026. Tekanan inflasi akibat gangguan pasokan energi juga semakin mempersempit ruang fiskal negara-negara miskin yang sudah terbebani utang dan suku bunga tinggi.

Melansir Reuters, dalam situasi tersebut Banga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penanganan krisis jangka pendek dan agenda jangka panjang. Menurutnya, dunia tidak boleh kehilangan fokus pada isu mendasar seperti penciptaan lapangan kerja, akses listrik, dan air bersih. “Kita harus bisa menyelesaikan masalah mendesak sekaligus mengerjakan rencana jangka panjang. Penanganan konflik memang harus dilakukan, tetapi kebutuhan dasar seperti penciptaan lapangan kerja dan penyediaan air bersih tidak boleh diabaikan,” katanya.

Ia juga menyoroti bahwa tekanan ekonomi global sejak pandemi COVID-19 membuat banyak negara kesulitan menjaga fokus pada pembangunan jangka panjang. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, agenda seperti reformasi ketenagakerjaan dan investasi sering kali tertunda. “Kita harus bisa melakukan dua hal sekaligus. Saat ini kita menghadapi siklus jangka pendek yang cepat, sementara tantangan jangka panjangnya adalah soal lapangan kerja dan air,” ujarnya.

Untuk merespons tantangan tersebut, Bank Dunia bersama Komite Pembangunan berencana memperkuat kerja sama dengan negara berkembang dalam menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Langkah ini mencakup penyederhanaan perizinan usaha, peningkatan transparansi, pemberantasan korupsi, serta reformasi regulasi ketenagakerjaan dan pertanahan.

Selain itu, perbaikan sistem perdagangan dan logistik juga menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Tujuannya adalah membuka lebih banyak peluang kerja, terutama bagi generasi muda yang akan memasuki pasar tenaga kerja dalam jumlah besar.

5 sektor utama motor lapangan kerja

Bank Dunia mengidentifikasi lima sektor utama yang berpotensi menjadi motor penciptaan lapangan kerja, yakni infrastruktur, pertanian skala kecil, layanan kesehatan dasar, pariwisata, dan manufaktur bernilai tambah. Sektor-sektor ini dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak global dan disrupsi teknologi, termasuk perkembangan kecerdasan buatan.

Namun demikian, keberhasilan penciptaan ratusan juta lapangan kerja baru tidak dapat bergantung pada pemerintah semata. Peran sektor swasta dinilai krusial dalam memperluas kapasitas ekonomi dan menciptakan peluang kerja yang berkelanjutan.

Sejumlah perusahaan besar dari negara berkembang, seperti Reliance Industries, Mahindra Group, dan Dangote Group, mulai menunjukkan potensi sebagai pemain global yang mampu mendorong ekspansi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. “Kita tidak bisa bekerja sendirian. Kita perlu dukungan dari banyak pihak agar upaya menciptakan 800 juta lapangan kerja ini bisa berjalan dan mencapai target,” kata Ajay Banga, dilansir Daily Sabah.

Senada dengan itu, ia juga menekankan pentingnya membangun momentum kolaborasi lintas sektor agar solusi yang dihasilkan tidak bersifat parsial. “Masalahnya, kita tidak bisa melakukannya sendiri. Kita harus membuat momentum ini terus berkembang untuk mencapai angka besar tersebut,” ujarnya.

Selain fokus pada penciptaan lapangan kerja, Bank Dunia juga memperkuat komitmennya dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Lembaga ini menargetkan penyediaan akses listrik bagi 300 juta rumah tangga di Afrika serta memastikan satu miliar orang mendapatkan akses air bersih yang aman. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan fondasi pembangunan yang lebih kuat sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di negara berkembang.

Ke depan, isu penciptaan lapangan kerja diperkirakan akan menjadi agenda utama dalam forum ekonomi global. Di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat, dunia dihadapkan pada pilihan krusial: mengabaikan tantangan struktural dan menghadapi risiko krisis yang lebih besar, atau membangun kolaborasi global untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, peringatan Bank Dunia menjadi pengingat bahwa konflik yang terjadi saat ini mungkin bersifat sementara, tetapi kegagalan menciptakan lapangan kerja dalam skala besar dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang jauh lebih luas bagi stabilitas dunia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in News

See More

Bank Dunia Peringatkan Krisis Lapangan Kerja, Dunia Defisit 800 Juta Pekerjaan

17 Apr 2026, 10:09 WIBNews