Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Demonstrasi besar-besaran di Teheran menjelang Revolusi Iran pada tahun 1979 (commons.m.wikimedia.org/Unknown author)
Ilustrasi demonstrasi di Iran (commons.m.wikimedia.org/Unknown author)

Intinya sih...

  • Krisis ekonomi di Iran memicu demonstrasi nasional yang meluas ke 222 lokasi di 26 provinsi.

  • Nilai tukar rial anjlok hingga 1,4 juta per dolar AS.

  • Situasi semakin genting dengan eskalasi kekerasan pasukan keamanan terhadap pengunjuk rasa damai.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Krisis ekonomi yang kian parah di Iran memicu gelombang demonstrasi nasional yang kini memberikan tekanan besar bagi pemerintahan teokrasi di negara tersebut. Hingga hari kedelapan, aksi protes telah meluas ke sedikitnya 222 lokasi di 26 provinsi, sebagai respons atas anjloknya nilai tukar mata uang dan lonjakan harga kebutuhan pokok.

Berdasarkan laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebagaimana dikutip oleh AP News dan Anadolu Agency, sebanyak 20 orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan tersebut, termasuk satu anggota pasukan keamanan. Selain itu, hampir 1.000 orang telah ditangkap, dengan beberapa di antaranya merupakan anak di bawah umur berusia 15 hingga 17 tahun.

Pemicu utama gejolak ini adalah runtuhnya nilai tukar rial yang kini menyentuh angka drastis 1,4 juta per satu dolar Amerika Serikat. Menurut AP News, perekonomian Iran belum pulih sejak perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 yang melumpuhkan sejumlah situs nuklir. Situasi diperparah oleh pemberlakuan kembali sanksi PBB pada September 2025 terkait program atom Tehran.

Masyarakat kini menghadapi inflasi tahunan sekitar 40 persen. Harga pangan pokok seperti daging dan beras melonjak tajam, ditambah kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar bersubsidi pada Desember lalu.

Protes yang awalnya dimulai oleh para pedagang kini bertransformasi menjadi tuntutan politik lebih luas, termasuk seruan perubahan rezim yang disuarakan mahasiswa di 17 universitas.

Meskipun otoritas di ibu kota Tehran menyebut aksi protes dalam skala terbatas, situasi di wilayah barat Iran justru menunjukkan eskalasi kekerasan yang serius.

Di Malekshahi, pasukan keamanan dilaporkan menggunakan tembakan peluru tajam dan gas air mata terhadap pengunjuk rasa yang mencoba menyerbu kantor polisi. Laporan Iran International mencatat sedikitnya lima orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam bentrokan di wilayah tersebut.

Krisis internal ini terjadi saat posisi geopolitik Iran di Timur Tengah sedang berada di titik terendah.

Koalisi "Axis of Resistance" dukungan Tehran telah melemah signifikan pasca-perang Gaza 2023.

Israel berhasil melumpuhkan kepemimpinan Hizbullah di Lebanon, sementara sekutu utama Iran di Suriah, Bashar al-Assad, telah digulingkan dalam serangan mendadak pada Desember 2024.

Kondisi ini semakin genting setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan keras. Mengacu pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS baru-baru ini, Trump menegaskan Washington akan mengambil tindakan jika Iran melakukan tindakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa damai.

"Jika mereka mulai membunuh orang, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat," ujar Trump sebagaimana dilaporkan AP News.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mengakui adanya masalah ekonomi. Namun, ia memberikan peringatan tegas agar demonstrasi tidak berubah menjadi kerusuhan.

“Kami berbicara dengan pengunjuk rasa, tapi tidak ada manfaatnya berbicara dengan perusuh. Perusuh harus diletakkan pada tempatnya,” ujar Khamenei dikutip Al Jazeera.

Di sisi lain, kelompok sipil seperti Workers’ House of Iran membela hak masyarakat untuk melakukan protes. Mereka menegaskan bahwa menyuarakan keresahan atas kondisi ekonomi dan mata pencaharian adalah tindakan yang sah menurut hukum.

Editorial Team