Jakarta, FORTUNE - Permintaan storage semakin tinggi ditengah pesatnya perkembangan artificial intelligence (AI). Hal ini menyebabkan harga menjadi naik dan ketersediaan barang menjadi terbatas.
Bahkan, proyeksi Gartner menyampaikan bahwa harga NAND Flash yang menjadi komponen utama dari solid-state drive (SSD) melonjak 234 persen pada tahun 2026. Synology mengatakan bahwa perusahaan telah memprediksi bahwa terdapat tren bahwa adanya kekurangan pasokan dalam waktu dekat seiring dengan kebutuhan yang semakin tinggi.
Dengan demikian, Country Manager Indonesia Synology Clara Hsu mengatakan bahwa perusahaan tengah memastikan bahwa stok tercukupi untuk memenuhi kebutuhan ke depannya. “Itu adalah komitmen Synology, dari sisi Synology sendiri memastikan bahwa semua komponen yang dibutuhkan untuk menjalankan satu perangkat sinologi bisa lancar didapatkan dan diimplementasikan di sisi user,” ujarnya dalam acara Synology Press Event 2026 di Jakarta, Selasa (13/10).
Meski demikian, Clara juga mengatakan kepada Fortune Indonesia bahwa di tengah ekonomi yang sedang bergejolak, perusahaan juga terkena dampak. Sehingga, ketika pasokan tidak mencukupi permintaan, perusahaan harus menyesuaikan harga.
Namun, di saat yang bersamaan, perusahaan juga menyediakan solusi dengan biaya yang lebih murah agar klien dapat memiliki pilihan untuk membeli sekaligus memastikan bahwa produk tetap terserap pasar. “Di saat harga segala sesuatu sedang naik, kami terus mencari solusi,” ujarnya.
Sejalan dengan hal tersebut, di tengah peningkatan harga cloud, saat ini Clara mencermati bahwa pengguna lebih memilih untuk beralih ke sistem on premise atau menggunakan model hybrid. “Mereka tidak ingin kapasitas di sana terisi penuh, karena mereka tidak bisa memprediksi seperti apa ketersediaan sumber daya di masa depan. Jika penyedia layanan cloud menaikkan harga, ya harganya memang akan naik. Jadi, mereka harus memitigasi risiko ini,” ujar Clara.
Di Indonesia sendiri, Clara mengatakan bahwa penyimpanan model on premise atau model perangkat keras server yang dimiliki dan dikelola langsung oleh perusahaan lebih diminati di Indonesia. Beberapa alasannya meliputi adanya faktor internet dan regulasi. “Ada industri tertentu yang tidak diizinkan menyimpan data di tempat pihak lain. Contohnya sektor perbankan, keuangan, dan pemerintahan. Data wajib disimpan di pusat data (data center) di dalam negeri,” kata Clara pada Fortune Indonesia.
Sebagai catatan, Synology merupakan perusahaan teknologi asal Taiwan yang berfokus pada solusi network-attached storage (NAS), pencadangan dan pemulihan data, serta pengawasan video untuk bisnis maupun pengguna individu di seluruh Indonesia.
