Cikampek, FORTUNE - PT Pertamina Patra Niaga memperkuat pasokan energi nasional dengan mendorong produksi kilang ke tingkat maksimal guna mengantisipasi lonjakan permintaan bahan bakar minyak (BBM) menjelang Idulfitri 2026. Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat selama Ramadan dan arus mudik Lebaran.
Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan perencanaan kebutuhan energi untuk periode Ramadan hingga Lebaran telah disiapkan sejak awal tahun. Perusahaan menyusun strategi pasokan melalui kombinasi peningkatan produksi kilang dalam negeri serta pengadaan produk dari luar negeri.
“Sejak Januari Patra Niaga sudah menyiapkan perencanaan produk untuk Maret, baik yang diproduksi oleh kilang maupun yang harus dilakukan melalui importasi,” kata Ega dalam konferensi pers di SPBU Pertamina Rest Area KM 57A Cikampek, Kabupaten Karawang, Senin (16/3).
Pertamina memproyeksi permintaan gasoline atau bensin selama periode libur Lebaran tahun ini meningkat sekitar 12 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Kenaikan juga diperkirakan terjadi pada avtur, yakni sebesar 4 persen, seiring meningkatnya aktivitas penerbangan.
Sebaliknya, permintaan gasoil atau bahan bakar diesel diperkirakan turun sekitar 14,5 persen karena berkurangnya aktivitas logistik selama masa libur.
Untuk menjaga ketersediaan pasokan, kilang Pertamina saat ini dioperasikan pada tingkat produksi maksimal dengan total produksi mencapai sekitar 1,1 juta barel per hari. Menurut Ega, strategi operasi tersebut mencerminkan perubahan orientasi perusahaan yang saat ini lebih memprioritaskan ketersediaan energi bagi masyarakat dibandingkan optimalisasi margin kilang.
“Bukan lagi kami berorientasi pada optimasi profit kilang. Saat ini tidak demikian, karena kebutuhan meningkat. Kami melihat availability produk itu lebih penting daripada profitabilitas,” katanya.
Selain dari sisi produksi, Pertamina juga memastikan keamanan pasokan melalui pengadaan energi tambahan secara berkala. Saat ini, stok BBM dan LPG dilaporkan berada di atas 21 hari ketahanan pasokan, dengan proses pengisian kembali yang dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas distribusi selama periode puncak permintaan.
Ega menjelaskan sebagian besar kontrak pengadaan energi telah diamankan melalui skema jangka panjang. Sekitar 90–95 persen kontrak pengadaan bahkan sudah dikunci sebelum meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.
“Sekitar 90 persen sampai 95 persen pengadaan itu sudah lock sebelum kejadian geopolitik di Timur Tengah. Jadi saat ini kami tinggal memonitor delivery-nya,” ujarnya.
Di sisi bahan baku, ketersediaan minyak mentah untuk operasionalisasi kilang juga berada dalam kondisi normal dengan tingkat persediaan sekitar 11–12 hari. Namun, Ega menekankan angka tersebut merupakan bagian dari rantai pasok yang terus bergerak, termasuk minyak mentah yang masih berada di kapal pengangkut maupun yang berasal dari produksi domestik.
“Crude ini bukan berarti 12 hari lalu habis. Ini satu rangkaian supply chain. Ada yang sedang di kapal menuju kilang dan ada juga yang berada di hulu,” katanya.
Pemerintah, kata dia, juga memprioritaskan minyak mentah produksi dalam negeri untuk diolah di kilang Pertamina guna memperkuat ketahanan energi nasional. Koordinasi juga dilakukan dengan subholding perkapalan Pertamina untuk memastikan kesiapan armada kapal dalam mendukung distribusi energi selama periode Ramadan hingga Idulfitri.
