Jakarta, FORTUNE - Ambisi pemerintah menyuntikkan campuran biodiesel 50 persen atau B50 pada Juli 2026 menyisakan ganjalan besar bagi PT Pertamina Patra Niaga. Alih-alih perkara kemandirian energi semata, kebijakan ini justru menyimpan bom waktu: potensi kelebihan pasokan (excess) solar yang diprediksi menggelembung hingga 8,3 juta kiloliter (KL) per tahun.
Ancaman ini muncul bukan tanpa sebab. Seiring meningkatnya porsi campuran fatty acid methyl ester (FAME) ke dalam tangki nasional, struktur konsumsi energi otomatis bergeser. Vice President Business Development & Subsidiary Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mewanti-wanti bahwa meski saat ini pasokan dan permintaan solar domestik masih dalam titik keseimbangan, kehadiran B50 akan mengacaukan neraca tersebut.
“Kalau sekarang solar kita sudah seimbang antara supply dan demand. Tapi saat B50 berjalan, otomatis akan ada ekses solar,” ujar Sigit dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (30/4).
Persoalan kian pelik akibat keterbatasan teknis kilang minyak milik perseroan. Desain kilang-kilang di Tanah Air tidak dirancang memangkas produksi solar secara mandiri tanpa mengganggu output produk lain. Jika Pertamina mengerem produksi solar demi menghindari banjir pasokan, maka produksi bensin (gasoline), LPG, hingga avtur akan turut merosot.
Ironisnya, saat ini Indonesia masih "haus" bensin dengan ketergantungan impor mencapai 50 persen. Menurunkan pengoperasian kilang demi B50 justru berisiko memperdalam ketergantungan pada pasokan bensin luar negeri. Sebuah paradoks yang menyulitkan posisi Pertamina.
Di sisi lain, membuang kelebihan solar ke pasar global pun bukan perkara gampang. Produk solar domestik saat ini masih berkadar sulfur tinggi (high sulfur), sementara selera pasar dunia kian bergerak ke arah bahan bakar rendah sulfur yang lebih ramah lingkungan.
“Di luar negeri sudah sangat sedikit yang menerima produk high sulphur. Selain sulit mencari pasar, kami juga harus menanggung biaya logistik tambahan,” kata Sigit.
Beban ini diperkirakan akan kian berat saat proyek kilang baru, termasuk Grass Root Refinery (GRR) Tuban, mulai mengepulkan asapnya. Dari angka kelebihan 2,8 juta KL saat ini, volume ekses solar diprediksi akan melonjak ke angka 8,3 juta KL.
“Volume sebesar ini harus kita pikirkan bersama, ke mana serapannya akan dialokasikan,” ujarnya.
Bukan hanya urusan kilang dan ekspor, Pertamina juga terbentur urusan lahan. Terminal strategis seperti Plumpang di Jakarta dan Baubau di Sulawesi Tenggara tidak lagi memiliki ruang untuk membangun tangki penyimpanan FAME tambahan. Lokasi depot yang sudah terkepung permukiman padat penduduk kian mempersempit ruang gerak ekspansi infrastruktur fisik.
Kini, sementara pengujian teknis pada mesin kendaraan dan perkapalan masih berlangsung di bawah kendali pemerintah, Pertamina mengingatkan agar pengambil kebijakan tidak hanya terpaku pada hasil laboratorium.
