Pemerintah Uji Coba B50 di Alat Berat Tambang, Bagaimana Hasilnya?

- Kementerian ESDM melaporkan uji coba biodiesel B50 pada alat berat pertambangan menunjukkan hasil positif dengan performa mesin stabil dan tanpa gangguan signifikan selama lebih dari 900 jam operasional.
- Pengujian lapangan oleh PT Harmoni Panca Utama membandingkan B40 dan B50, menunjukkan peningkatan konsumsi bahan bakar sekitar 1–3 persen namun tetap dalam batas wajar tanpa menurunkan produktivitas alat berat.
- Bahan bakar B50 dinilai memenuhi spesifikasi teknis dan siap diterapkan di sektor non-otomotif, mendukung kebijakan energi terbarukan pemerintah untuk mengurangi impor bahan bakar fosil dan memperluas implementasi nasional.
Jakarta, FORTUNE - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pengujian penggunaan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) di sektor alat berat pertambangan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, uji B50 pada mesin diesel yang kini masih berlangsung menunjukkan hasil positif, baik dari sisi operasional maupun teknis.
"Hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin. Ini menjadi indikasi positif bahwa biodiesel dapat diandalkan untuk mendukung operasional sektor industri," ujar Eniya dalam keterangan resmi, Senin (7/4).
Dalam pelaksanaanya, Eniya menjelaskan uji penggunaan B50 pada sektor alat berat pertambangan dilakukan secara komprehensif, mencakup pengujian kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, hingga stabilitas penyimpanan. Hingga akhir Maret 2026, pengujian ketahanan dinamis telah mencapai lebih dari 900 jam operasional tanpa indikasi gangguan pada mesin yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar.
Sementara itu, hasil uji coba di lapangan menunjukkan tren yang sejalan. General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama (HPU), Rochman Alamsjah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pengujian langsung dengan membandingkan penggunaan B40 dan B50 pada unit alat berat.
Ia menambahkan, selama pengujian tidak terdapat kendala berarti pada performa mesin. Meski demikian, ia mencatat adanya penggunaan konsumsi bahan bakar yang lebih tinggi 1-3 persen untuk B50, namun hal ini masih dalam rentang wajar secara operasional.
"Saat ini kami sudah running kurang lebih 1000 jam dengan membandingkan performa dua unit HD785 Komatsu. Satu mengkonsumsi B40 dan yang lainnya mengkonsumsi B50. Sejauh ini hingga mendekati hour meter 1000 jam performa mesin tidak menjadi masalah," ujar Rochman.
Dari sisi operasional, terdapat peningkatan konsumsi bahan bakar juga sekitar 3,12 persen dibandingkan penggunaan B40. Namun demikian, peningkatan tersebut masih dalam batas wajar dan tidak mempengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan, sehingga tetap menunjukkan kelayakan penggunaan B50 di lapangan.
Berdasarkan hasil pengujian tersebut, bahan bakar B50 diklaim telah memenuhi spesifikasi teknis yang disepakati stakeholders, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, serta kandungan FAME. Sehingga dinilai siap diaplikasikan pada sektor non-otomotif dengan karakteristik beban kerja tinggi, seperti pertambangan.
B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis nabati dan 50 persen solar. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus menekan impor bahan bakar fosil, melanjutkan implementasi B40 yang telah berjalan nasional sejak awal 2025.
Ke depan, pemerintah akan melanjutkan rangkaian pengujian B50 pada berbagai sektor, termasuk transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian, guna memastikan kesiapan implementasi secara lebih luas. Hasil pengujian ini akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan serta standar teknis implementasi B50 secara nasional.
















