Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Defisit APBN Naik Jadi Rp196,5 Triliun atau 0,76% PDB per Juni 2026

Defisit APBN Naik Jadi Rp196,5 Triliun atau 0,76% PDB per Juni 2026
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers, Selasa (21/7). Dok Tangkapan Layar Youtube Kementerian Keuangan
Intinya Sih
  • Defisit APBN hingga Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau 0,76% dari PDB, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya akibat belanja negara yang lebih besar dari pendapatan.
  • Pendapatan negara tumbuh 21,4% menjadi Rp1.459,4 triliun didorong oleh penerimaan pajak dan PNBP yang naik signifikan sepanjang semester I 2026.
  • Belanja kementerian/lembaga melonjak 40% menjadi Rp658,9 triliun sementara transfer ke daerah turun 11,2%, menghasilkan surplus keseimbangan primer Rp85,1 triliun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) hingga semester I 2026 sebesar Rp196,5 triliun, atau 0,76 persen terhadap PDB.

Defisit tersebut terjadi karena belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Defisit ini meningkat dibandingkan Mei 2026 sebesar Rp180,4 triliun dan Rp164,4 triliun pada April 2026.

Secara terperinci, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656,0 triliun atau tumbuh 17,8 persen.

“APBN terus berperan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan agenda pembangunan nasional,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Selasa (21/7).

Hingga Juni 2026, pendapatan negara naik 19,1 persen secara tahunan dengan realisasi Rp1.459,4 triliun. Kenaikan tersebut disebabkan penerimaan perpajakan tumbuh 21,4 persen atau sebesar Rp1.187,8 triliun. Secara terperinci, penerimaan pajak tumbuh 24,6 persen dengan nilai Rp1.035,7 triliun dan kepabeanan dan cukai naik 3,4 persen atau Rp145 triliun.

Sementara itu, PNBP tumbuh 21,6 persen menjadi Rp271,0 triliun dan hibah tumbuh 10,2 persen menjadi Rp700 miliar.

Dari sisi belanja negara, belanja kementerian/lembaga (K/L) tumbuh 40 persen atau senilai Rp658,9 triliun, sementara belanja non K/L tumbuh 20 persen atau Rp639,7 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah tercatat turun 11,2 persen menjadi Rp357,4 triliun.

Sementara itu, surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun.

Purbaya mengatakan bahwa kinerja tersebut menjadi faktor SNP mempertahankan peringkat kredit RI di BBB dan outlook dipertahankan stabil.

“Dengan kinerja tersebut, kami optimis APBN akan terus menjadi instrumen yang efektif dalam menjaga stabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan,” kata Purbaya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More