Perjanjian Dagang RI-Kanada Segera Efektif, Peluang Baru Sektor Energi?

- ICA-CEPA dapat segera berlaku efektif dan diharapkan dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia serta Kanada.
- Airlangga Hartarto dan Mark Carney membahas peluang kerja sama pangan, energi, potash, minyak dan gas, serta mineral kritis.
- Indonesia menyampaikan perkembangan proyek LNG di British Columbia dan peluang investasi maupun ekspor stainless steel ke Kanada.
Jakarta, FORTUNE - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa perjanjian Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang dapat segera berlaku efektif dalam waktu dekat, dapat membuka babak baru hubungan dagang dan investasi Indonesia-Kanada.
Setelah berlaku efektif, ICA-CEPA diharapkan dapat langsung dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha kedua negara, khususnya di sektor-sektor unggulan seperti ketahanan pangan, energi, dan mineral kritis.
Hal tersebut disampaikan Airlangga udai bertemu Perdana Menteri Kanada Mark Carney di sela penyelenggaraan Canada Investment Summit yang pertama. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komunikasi telepon antara Presiden Prabowo Subianto dengan PM Carney pada Juni lalu, yang membahas perluasan hubungan dagang dan investasi kedua negara.
Di sektor pangan dan energi, kedua pihak menjajaki peluang kerja sama untuk memperkuat ketahanan pasokan, termasuk potensi investasi Potash guna mendukung kebutuhan pupuk nasional serta kemitraan di bidang minyak dan gas.
Pembahasan juga mencakup tindak lanjut kerja sama mineral kritis yang telah dirintis dalam kerangka ICA-CEPA, mengingat kedua negara merupakan produsen mineral kritis yang memiliki kepentingan bersama dalam membangun rantai pasok yang aman dan berkelanjutan.
Selain itu, Indonesia juga menyampaikan harapan agar kolaborasi di bidang energi nuklir, termasuk ekosistem Small Modular Reactor (SMR), dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari strategi ketahanan energi jangka panjang nasional.
Sementara itu, dalam sesi roundtable bertajuk "Exchanging Investor Insights on Canada" pada rangkaian Canada Investment Summit 2026 di Toronto, Kanada, Menko Airlangga menyampaikan perkembangan investasi Indonesia di Kanada, diantaranya yaitu proyek Liquefied Natural Gas (LNG) di British Columbia senilai US$5,1 miliar yang telah mencapai 60 persen tahap konstruksi, menjadi salah satu bukti konkret komitmen investasi jangka panjang Indonesia di Kanada.
Airlangga menyampaikan pula sejumlah peluang investasi baru yang tengah dijajaki, seperti investasi pabrik pulp and paper di Kanada, serta penyiapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk pusat data (data center) di Indonesia.
Di sektor sumber daya alam, Menko Airlangga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen utama Tembaga dan Bauksit dunia, menjadi modal penting dalam mendukung rantai pasok mineral global, termasuk kebutuhan bahan baku bagi industri hilir dan teknologi bersih.
Menko Airlangga juga melihat peluang besar untuk memperluas ekspor produk stainless steel Indonesia ke pasar Kanada, mengingat pangsa ekspor Indonesia ke Kanada di sektor ini saat ini masih relatif kecil dibandingkan potensi produksi nasional yang mencapai sekitar US$30 miliar per tahun.
"Kami punya cadangan nikel terbesar di dunia, produsen utama tembaga dan bauksit, dan kapasitas ekspor stainless steel yang kompetitif. Namun potensi ini belum tergarap maksimal di pasar Kanada. Inilah peluang yang perlu segera kita isi dan manfaatkan bersama," ujar Menko Airlangga dalam keterangannya, Kamis (18/9).




















