Jakarta, FORTUNE - Pemerintah menyiapkan cara menutup defisit tenaga medis nasional yang saat ini mencapai 100.000 dokter. Sebagai salah satu solusi, pemerintah akan menanggung biaya pendidikan melalui skema beasiswa penuh bagi mahasiswa kedokteran di fakultas-fakultas baru, yang ditargetkan masuk dalam tahun anggaran 2026.
Problem ini menjadi pembahasan utama dalam taklimat Presiden Prabowo Subianto bersama para rektor dan guru besar di Istana Negara, pekan lalu.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah menempuh dua langkah besar demi mengatasi kelangkaan ini.
Pertama, memperbesar kapasitas program studi (prodi) yang sudah ada, baik untuk kedokteran umum maupun spesialis. Setelah itu, yang dinilai tidak dapat dielakkan, adalah pembangunan fakultas kedokteran baru secara besar-besaran.
Guna menjamin pemerataan akses sumber daya manusia (SDM) di fakultas-fakultas anyar tersebut, instrumen fiskal berupa beasiswa disiapkan.
Pemerintah saat ini tengah mengidentifikasi lokasi dan kebutuhan infrastruktur pendidikan. Prasetyo menegaskan, ekspansi ini tidak hanya menyasar dokter umum, tetapi juga dokter gigi, tenaga farmasi, hingga SDM pada bidang teknologi kesehatan. Hal ini diperlukan untuk mendukung pengoperasian alat-alat medis modern yang kian canggih.
“Mau tidak mau kita harus memberanikan diri untuk membuat fakultas baru untuk kedokteran umum. Kita juga kekurangan dokter gigi, harus kuat di farmasi, dan juga teknologi kesehatan,” ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan pada kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Di sisi regulasi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, memaparkan langkah taktis yang telah berjalan. Bersinergi dengan Kementerian Kesehatan, pihaknya telah menerbitkan izin pembukaan 156 prodi baru untuk mempercepat produksi tenaga medis ahli.
“[Izin itu untuk] 126 prodi spesialis dan 30 prodi subspesialis,” kata Brian.
Kebijakan ini diproyeksikan berdampak langsung pada lonjakan jumlah mahasiswa kedokteran mulai awal 2026, dengan estimasi penambahan mahasiswa baru 3.150 orang.
Dengan tambahan tersebut, pemerintah memperkirakan total mahasiswa kedokteran nasional akan meningkat dari kisaran 5.000 menjadi lebih dari 8.000 orang. .
