Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Prabowo Dorong ASEAN Bersatu Hadapi Krisis Energi dan Pangan
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada Kamis, (7/5). (Foto: BPMI Setpres)
  • Presiden Prabowo Subianto menyerukan negara-negara ASEAN memperkuat kerja sama di bidang energi dan pangan guna menghadapi tekanan global serta ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
  • Prabowo menyoroti potensi besar kawasan BIMP-EAGA dalam mendukung transisi energi melalui tenaga air, surya, dan angin, serta mendorong percepatan pembangunan infrastruktur energi lintas negara.
  • Ia menekankan pentingnya dukungan pembiayaan, transfer keahlian teknis, dan kemitraan regional untuk mewujudkan ketahanan energi sekaligus menjadikan ketahanan pangan sebagai prioritas bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Presiden Prabowo Subianto mewanti-wanti negara-negara anggota ASEAN agar segera memacu kerja sama pada sektor pangan dan energi. Peringatan ini dilontarkan menyusul kian tajamnya tensi geopolitik dunia dan tekanan global yang kian menghimpit.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus BIMP-EAGA di Cebu, Kamis (7/5), Prabowo menjelaskan kedaulatan energi bukan lagi sekadar wacana masa depan. Hal itu kini telah menjelma menjadi kebutuhan mendesak yang wajib direspons secara kolektif oleh negara-negara di kawasan.

“Ketahanan energi adalah salah satu isu penting yang kita hadapi saat ini. Dengan meningkatnya tekanan global dan ketidakstabilan di Timur Tengah, ini bukan lagi masalah jangka panjang, melainkan masalah mendesak,” ujar Prabowo sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Kamis (7/5).

Presiden menengarai kawasan BIMP-EAGA menyimpan pundi-pundi sumber daya yang melimpah guna menyokong transisi energi di Asia Tenggara. Potensi tersebut terbentang mulai dari tenaga air, energi surya, angin, hingga hamparan lahan subur yang hingga kini belum tergarap optimal.

Eks-Menteri Pertahanan tersebut mendorong negara-negara anggota untuk bergerak lebih trengginas. Ia ingin potensi tersebut tidak hanya menjadi penopang kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi tulang punggung agenda transisi energi ASEAN yang lebih luas.

“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” tegasnya.

Di hadapan para pemimpin kawasan, Prabowo membedah sejumlah proyek yang layak menjadi prioritas bersama. Agenda tersebut mencakup pengembangan tenaga air di Kalimantan, ekspansi proyek surya di Palawan, hingga pemanfaatan energi angin di garis pesisir.

Indonesia sendiri saat ini tengah mengebut pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan skala masif.

“Transisi energi kita sedang melaju dengan kecepatan penuh. Kita tengah bangun tenaga surya 100 GW. Bersama-sama kita tingkatkan infrastruktur energi kita,” kata Presiden.

Selain pembangkitan, sektor konektivitas turut menjadi perhatian serius. Dia mendorong peningkatan kapasitas Trans Borneo Power Grid agar distribusi setrum lintas negara dapat berjalan lebih efisien dan terintegrasi.

Kendati demikian, Prabowo mengakui ambisi besar ini mustahil terwujud tanpa sokongan pembiayaan yang kuat dan transfer keahlian teknis. Beliau menyerukan penguatan kemitraan dengan para penasihat regional serta mitra pembangunan internasional.

“Semua ini tidak akan terjadi tanpa dukungan yang tepat. Kita perlu mengamankan pendanaan, memobilisasi keahlian teknis; dan memperdalam kemitraan dengan penasihat regional dan mitra pembangunan kita,” katanya.

Menutup pidatonya, Prabowo mengingatkan urusan perut rakyat tidak boleh dikesampingkan. Baginya, ketahanan pangan memiliki nilai fundamental yang setara dengan energi dalam menjaga stabilitas masyarakat di tengah ketidakpastian jagat raya.

“Namun, upaya kita hendaknya jangan berhenti pada ketahanan energi. Ketahanan pangan sama fundamentalnya,” kata Prabowo. 

Editorial Team