Airlangga Tekankan Ketahanan Energi ASEAN Hadapi Dampak Konflik Global

- Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya ketahanan energi dan pangan ASEAN untuk menghadapi dampak konflik global yang mengganggu suplai energi serta memicu lonjakan harga komoditas di kawasan.
- ASEAN didorong memanfaatkan kerja sama regional seperti ASEAN Power Grid dan APSA, serta memperkuat perdagangan intra-ASEAN dan diversifikasi mitra dagang guna menjaga stabilitas ekonomi.
- Lembaga internasional seperti AMRO dan ADB memberikan rekomendasi kebijakan jangka pendek dan panjang, termasuk dukungan pembiayaan, untuk membangun ketahanan ekonomi dan energi ASEAN secara berkelanjutan.
Jakarta, FORTUNE โ Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya penguatan ketahanan energi dan pangan ASEAN untuk menghadapi dampak konflik global yang memicu keterbatasan suplai energi hingga lonjakan harga-harga komoditas dan pangan di kawasan ASEAN.
Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) yang digelar di Dusit Thani Mactan Cebu, Filipina, Kamis (7/5).
Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya tekanan ekonomi akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada terganggunya jalur energi global, termasuk di Selat Hormuz.
โUntuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN dengan mitra strategis, seperti ASEAN Plus One FTAs dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP),โ ujar Airlangga dalam keterangannya, Kamis (7/5).
Menurut Airlangga, ASEAN juga perlu memanfaatkan kerja sama regional di sektor energi, seperti ASEAN Power Grid (APG) dan ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA), guna memperkuat ketahanan kawasan menghadapi gejolak global.
Ia menilai sentralitas ASEAN perlu dimanfaatkan untuk membangun supply chain resilience atau ketahanan rantai pasok di kawasan. Selain itu, diversifikasi mitra dagang dan penguatan perdagangan intra-ASEAN juga menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi regional.
Dalam forum tersebut, sejumlah lembaga internasional turut menyampaikan proyeksi dan rekomendasi kebijakan bagi ASEAN. Kepala Ekonomi AMRO, Dong He, memaparkan bahwa kebijakan domestik Amerika Serikat dan konflik global telah memicu gangguan suplai energi dan pestisida ke kawasan ASEAN.
Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan harga energi dan transportasi, depresiasi nilai tukar, hingga lonjakan inflasi yang disebut menjadi tekanan stagflasi terkuat bagi ASEAN sejak 2011.
AMRO merekomendasikan kebijakan jangka pendek untuk meredam gejolak sekaligus langkah jangka panjang guna membangun ketahanan ekonomi yang adaptif dan pragmatis.
Sementara itu, Asian Development Bank mendorong penguatan ketahanan energi dan pangan melalui program konkret bersama badan-badan ASEAN dan sektor swasta. ADB juga menyatakan kesiapan untuk mendukung stabilitas pasar keuangan ASEAN melalui dukungan pembiayaan dan investasi.
Di sisi lain, Sekretariat ASEAN mengusulkan ASEAN CORE (Coordinated Response for Enduring Resilience) sebagai respons regional untuk memperkuat institusi, integrasi ekonomi dan keuangan, ketahanan energi dan pangan, serta rantai pasok maritim ASEAN.

















