Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Iklim Tropis Ancam Pertumbuhan Pusat Data di Kawasan ASEAN

Iklim Tropis Ancam Pertumbuhan Pusat Data di Kawasan ASEAN
Ilustrasi pusat data yang menyimpan dan memproses informasi dalam jumlah besar, seperti yang digunakan oleh mesin pencari. (Pexels/Christina Morillo)
Intinya Sih
  • Permintaan pusat data di Asia Tenggara tumbuh pesat hingga 20% per tahun.

  • Singapura memperkenalkan Standar Data Center Tropis yang memungkinkan suhu operasional naik hingga 26°C untuk menghemat energi.

  • Raksasa teknologi global seperti Amazon, Microsoft, dan Alibaba berinvestasi besar di kawasan ini.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Asia Tenggara berlomba membangun infrastruktur untuk mendukung ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun, iklim tropis yang panas dan lembap di kawasan ini membuat proses tersebut menjadi lebih sulit.

Menurut warta Fortune, permintaan pangkalan data di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 20 persen setiap tahun hingga 2028. Saat ini, pasokan data center di kawasan ini masih jauh lebih rendah (bisa hingga 70 persen lebih sedikit) dibandingkan dengan pasar yang sudah matang seperti Amerika Serikat dan Cina. Total ada sekitar 370 data center di seluruh Asia Tenggara, dengan mayoritas berada di Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Menurut Mayank Shrivastava, CEO BDx Data Centers, yang berbasis di Singapura, jika negara-negara di kawasan ini tidak ikut serta dalam gelombang AI ini, mereka berisiko terjajah secara digital.

ā€œKeuntungan ekonomi mengalir ke negara yang mengubah bahan mentah menjadi barang jadi—dan, dalam hal ini, bahan mentahnya adalah data,ā€ kata dia kepada Fortune, Jumat (27/3).

Namun, iklim tropis Asia Tenggara yang panas dan lembap menghadirkan tantangan bagi pusat data di wilayah ini.

Suhu di Asia Tenggara rata-rata berkisar 27–35°C sepanjang tahun, sementara data center idealnya beroperasi pada suhu 18–27°C. Kombinasi panas dan kelembapan tinggi membuat pendinginan server membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan dengan di negara-negara beriklim sedang.

ā€œMasalah utama di iklim tropis bukan hanya panas, melainkan panas ditambah kelembapan. Kelembapan tinggi menyulitkan pembuangan panas, meningkatkan risiko kondensasi dan korosi, serta menurunkan keandalan peralatan dalam jangka panjang,ā€ kata Pakar Termal dari National University of Singapore (NUS), Profesor Lee Poh Seng.

Meski demikian, pangkalqn data harus dibangun dekat dengan pengguna akhir untuk memastikan akses yang lebih cepat. Pasalnya, ada sekitar 85 persen penduduk dunia yang tinggal di luar wilayah beriklim sedang.

Pada 11 Maret 2026, BDx menjadi perusahaan pertama yang menerapkan Standar Data Center Tropis Singapura (Tropical Data Center Standard). Standar ini mengizinkan suhu operasional data center dinaikkan secara bertahap hingga 26°C. Setiap kenaikan 1°C suhu operasional dapat menghemat energi hingga 5 persen.

Standar ini merupakan bagian dari peta jalan Green Data Center Singapura untuk mendukung pertumbuhan yang lebih ramah lingkungan.

Banyak perusahaan teknologi global melihat Asia Tenggara sebagai tempat yang masih punya ruang untuk membangun pusat data. Perusahaan raksasa seperti Amazon, Microsoft, Google, Alibaba, dan Tencent tengah menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun data center skala besar (hyperscale) di kawasan ini.

Malaysia saat ini berencana menambah hingga 8 gigawatt listrik berbasis gas hingga 2030 untuk memenuhi kebutuhan data center. Sedangkan, Singapura mengalokasikan lebih dari 1 miliar dolar Singapura atau sekitar Rp12 triliun selama lima tahun ke depan untuk riset AI publik.

BDx Data Centers memiliki enam data center di Indonesia, termasuk yang berkapasitas 100 MW di Jakarta, yang menjadi lokasi terbesar mereka.

Bridge Data Centers (juga berbasis di Singapura) beroperasi di Malaysia, Thailand, dan India. Perusahaan ini sedang mempelajari penggunaan hidrogen dan tenaga nuklir dengan target mencapai netral karbon pada 2040. Salah satu pangkalan datanya di Malaysia telah memenuhi 50 persen kebutuhan listrik dari energi surya.

Terlepas dari antusiasme terhadap kemampuan AI untuk berkembang di dunia digital, perusahaan tidak dapat menghindari masalah dunia nyata seperti panas dan listrik.Ā 

ā€œInfrastruktur AI pada dasarnya adalah tantangan energi dan pendinginan yang dikemas dalam peluang ekonomi digital,ā€ kata Lee.

Ia menyarankan agar perusahaan perlu memikirkan penempatan proyek data center mereka dengan pertimbangan kemudahan mengakses energi bersih, serta memikirkan desain yang paling efisien.

Apalagi dengan adanya konflik Timur Tengah, dia menyebut pusat data pun perlu mencari alternatif.

ā€œPerang Iran telah menyebabkan harga minyak meroket, meningkatkan kekhawatiran tentang keandalan energi. Ini akan semakin mendorong perusahaan AI di kawasan ini untuk melakukan diversifikasi ke bentuk energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan,ā€ ujarnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Tech

See More