Sam Altman Ungkap Gen Z Jadikan ChatGPT “Life Advisor” Harian

Jakarta, FORTUNE - CEO OpenAI Sam Altman mengatakan, Gen Z dan milenial menggunakan ChatGPT layaknya “penasihat hidup”, tetapi mahasiswa mungkin selangkah lebih maju Seiring ChatGPT menjadi semakin canggih, penggunaan praktisnya pun terus berkembang. Menariknya, tiap generasi ternyata menggunakan produk ini dengan cara yang berbeda.
“Penyederhanaan besar-besaran, tetapi orang yang lebih tua menggunakan ChatGPT sebagai pengganti Google. Mungkin orang berusia 20-an dan 30-an menggunakannya seperti penasihat hidup, lalu mahasiswa menggunakannya seperti sistem operasi,” kata Altman dalam acara AI Ascent yang digelar Sequoia Capital pada Mei lalu, mengutip Fortune.com.
Perusahaan modal ventura Sequoia pertama kali berinvestasi di OpenAI pada 2021 saat valuasi perusahaan itu masih mencapai US$14 miliar. Saat ini, OpenAI memiliki valuasi sekitar US$852 miliar setelah salah satu putaran pendanaan swasta terbesar sepanjang sejarah. Sequoia juga berinvestasi di sejumlah raksasa teknologi lain seperti Nvidia, Reddit, Instacart, YouTube, Apple, Dropbox, Airbnb, dan DoorDash.
Lalu, bagaimana Gen Z menggunakan ChatGPT secara berbeda dari milenial? Altman mengatakan anak muda menggunakan ChatGPT mirip seperti menggunakan sistem operasi. Mereka memiliki cara yang kompleks untuk mengatur penggunaannya, menghubungkannya dengan file, serta menyimpan atau menghafal prompt yang cukup rumit.
“Maksud saya, semua itu keren dan mengesankan. Dan ada hal lain juga, yakni mereka tidak benar-benar membuat keputusan hidup tanpa bertanya kepada ChatGPT tentang apa yang harus mereka lakukan," ujarnya.
ChatGPT tidak menggantikan hubungan antarmanusia
Pada 2025, OpenAI menerbitkan laporan yang menyebutkan bahwa dibandingkan berbagai kasus penggunaan lain maupun tipe pengguna lainnya, kelompok dewasa muda usia kuliah di AS paling antusias menggunakan ChatGPT. Disebutkan pula bahwa lebih dari sepertiga orang berusia 18 hingga 24 tahun menggunakan ChatGPT.
Melansir laman resmi OpenAI, dalam laporan tersebut peneliti menyebut ChatGPT memang tidak dirancang untuk menggantikan hubungan antarmanusia, tetapi sebagian pengguna mulai memanfaatkannya untuk interaksi personal karena gaya percakapannya yang semakin natural dan kemampuannya yang terus berkembang.
Riset tersebut dilakukan melalui dua pendekatan, yakni analisis hampir 40 juta interaksi pengguna ChatGPT secara anonim serta uji coba terhadap hampir 1.000 partisipan selama empat pekan. Penelitian itu meneliti dampak penggunaan AI terhadap rasa kesepian, ketergantungan emosional, interaksi sosial, hingga penggunaan AI secara berlebihan.
Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan emosional dengan ChatGPT sebenarnya masih tergolong jarang dalam penggunaan sehari-hari. Namun, pada sebagian kecil pengguna aktif, terutama pengguna mode suara intensif, ditemukan tingkat keterikatan emosional yang lebih tinggi. Kelompok ini juga lebih cenderung setuju dengan pernyataan seperti “Saya menganggap ChatGPT sebagai teman.”
Penelitian tersebut juga menemukan penggunaan ChatGPT dalam percakapan personal berkaitan dengan meningkatnya rasa kesepian, meski pada tingkat tertentu justru menurunkan ketergantungan emosional dan penggunaan bermasalah. Sebaliknya, percakapan nonpersonal dalam penggunaan intensif justru cenderung meningkatkan ketergantungan emosional terhadap AI.
Selain itu, pengguna yang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk membangun keterikatan emosional dalam hubungan personal serta mereka yang menganggap AI sebagai “teman” lebih berisiko mengalami dampak negatif dari penggunaan chatbot. Durasi penggunaan harian yang terlalu panjang juga dikaitkan dengan hasil kesejahteraan emosional yang lebih buruk.
Meski demikian, OpenAI dan MIT Media Lab menekankan hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasi secara luas karena hubungan manusia dengan AI bersifat kompleks dan berbeda pada setiap individu. Pengguna muda dapat melakukan hal tersebut karena ChatGPT memiliki memori atas percakapan sebelumnya dengan pengguna. “ChatGPT memiliki konteks lengkap tentang setiap orang dalam hidup mereka dan apa yang pernah mereka bicarakan,” kata Altman.
Berbagai laporan menunjukkan orang menggunakan ChatGPT untuk berbagai hal, mulai dari saran hubungan asmara hingga pertanyaan bisnis dan kesehatan. Sebagian orang juga memanfaatkannya sebagai pengganti terapi bicara.
Sementara itu, para ahli di berbagai bidang tersebut masih terbelah mengenai apakah aman dan bijak berkonsultasi dengan ChatGPT untuk keputusan besar dalam hidup. Sebagai contoh, sebuah studi pada November 2023 “menyoroti perlunya kehati-hatian saat menggunakan ChatGPT untuk informasi terkait keselamatan dan perlunya verifikasi ahli, serta pentingnya pertimbangan etis dan perlindungan agar pengguna memahami keterbatasannya dan menerima saran yang tepat.” Studi lain menyebut large language model seperti ChatGPT “secara inheren bersifat sosiopatik”, sehingga sulit mempercayai nasihatnya.
Namun, studi dan eksperimen lain menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT untuk saran umum relatif tidak berbahaya, bahkan membantu dalam beberapa kasus. OpenAI sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai apakah aman atau dapat diandalkan menggunakan ChatGPT sebagai sumber nasihat.
“Perbedaannya luar biasa” dalam cara seorang anak usia 20 tahun menggunakan ChatGPT dibandingkan generasi yang lebih tua, kata Altman.
Altman menilai perbedaan cara penggunaan ChatGPT antar generasi saat ini mirip dengan fenomena awal kemunculan smartphone. Menurut dia, generasi muda jauh lebih cepat beradaptasi dan memahami teknologi baru dibanding pengguna yang lebih tua. “Ini mengingatkan saya ketika smartphone pertama kali muncul,” ujarnya.

















