Teknologi CT-LINAC Dorong Era Baru Perawatan Kanker di RI

Jakarta, FORTUNE - Perkembangan teknologi kesehatan mulai mengubah cara penanganan kanker di Indonesia, dari pendekatan umum menjadi terapi yang semakin presisi dan personal. Transformasi ini terlihat dari langkah Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center Siloam Semanggi (MRCCC Siloam) yang mengintegrasikan inovasi klinis dan kolaborasi global dalam layanan onkologi.
Dengan pengalaman menangani lebih dari 15.000 pasien setiap bulan, MRCCC Siloam memanfaatkan teknologi mutakhir untuk mempercepat diagnosis dan pengambilan keputusan terapi. Pendekatan ini menempatkan pasien sebagai pusat perawatan, sekaligus mendorong akurasi dan efektivitas penanganan kanker.
Executive Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Edy Gunawan, MARS, menilai masa depan onkologi akan sangat ditentukan oleh integrasi teknologi dan kolaborasi lintas disiplin. Menurutnya, masa depan penanganan kanker terletak pada pendekatan yang semakin personal, presisi, dan berbasis tim, sehingga setiap pasien dapat memperoleh terapi yang paling tepat dan berkualitas.
Salah satu teknologi yang menjadi sorotan adalah penggunaan CT-LINAC, yang memungkinkan visualisasi tumor secara real-time dan penyesuaian terapi secara adaptif.
"Teknologi ini memperkuat konsep precision oncology, yakni terapi yang disesuaikan dengan karakteristik spesifik pasien," ujar dr. Edy dalam Siloam Oncology Summit 2026, mengutip keterangan pers, Rabu (6/5).
Pendekatan adaptive radiotherapy berbasis CT-LINAC dinilai mampu meningkatkan akurasi radiasi sekaligus mengurangi risiko kerusakan jaringan sehat. Selain itu, integrasi teknologi ini juga menuntut keterlibatan tim multidisiplin, mulai dari dokter onkologi, radiolog, hingga tenaga medis lainnya dalam merancang terapi secara dinamis.
Kebutuhan akan inovasi ini semakin mendesak jika melihat beban kanker di Indonesia. Data Global Cancer Observatory 2022 mencatat sekitar 408.661 kasus baru dan 242.099 kematian akibat kanker. Mayoritas pasien, sekitar 60–70 persen, baru terdiagnosis pada stadium lanjut, mencerminkan masih rendahnya deteksi dini.
Dalam konteks ini, penguatan sistem diagnosis berbasis teknologi dan kolaborasi klinis menjadi kunci untuk meningkatkan outcome pasien.
Selain radioterapi, perkembangan juga terjadi di berbagai lini, mulai dari terapi kanker payudara, paru, hingga keganasan hematologi dan kanker sistem pencernaan. Peran farmasi onkologi, perawat khusus kanker, hingga layanan paliatif juga semakin terintegrasi dalam sistem perawatan.
MRCCC Siloam juga mengandalkan pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) yang menggabungkan berbagai disiplin, seperti onkologi medik, bedah, radiologi, patologi, hingga kedokteran nuklir, guna memastikan penanganan yang komprehensif.
Di tengah transformasi ini, kolaborasi internasional menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi praktik terbaik global. MRCCC Siloam menggandeng berbagai institusi kesehatan dunia, mulai dari MD Anderson Cancer Center hingga National University Hospital Singapore, untuk memperkuat transfer pengetahuan dan inovasi klinis. Langkah ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia dalam peta onkologi global yang semakin berbasis teknologi.
Sebagai latar dari inisiatif tersebut, MRCCC Siloam menghadirkan forum ilmiah yang mempertemukan pakar internasional dan nasional guna mendorong adopsi teknologi serta pendekatan personal dalam perawatan kanker. dr. Edy berharap Siloam Oncology Summit 2026, dapat memperkuat kolaborasi multidisiplin dan menjembatani keahlian global dengan praktik klinis di Indonesia.
Ke depan, integrasi teknologi presisi, kolaborasi multidisiplin, dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan diproyeksikan menjadi fondasi utama dalam membangun sistem layanan kanker yang lebih inklusif, akurat, dan berkelanjutan di Indonesia.















