Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

92 Juta Pekerjaan Terancam Hilang pada 2030, Pemberdayaan Talenta Digital Jadi Kunci

92 Juta Pekerjaan Terancam Hilang pada 2030, Pemberdayaan Talenta Digital Jadi Kunci
Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026/Dok Flip
Intinya Sih
  • Di sisi lain, transformasi digital menciptakan sekitar 170 juta peluang kerja baru di seluruh dunia.

  • Wamenristek Stella Christie menegaskan pentingnya pengembangan talenta digital dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan adaptif agar tidak mudah tergantikan oleh teknologi kecerdasan buatan.

  • Flip menunjukkan contoh nyata inovasi digital dengan menghadirkan solusi keuangan berbasis kebutuhan pengguna.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE – World Economic Forum (WEF) menyatakan ada 92 juta lapangan kerja di tataran global bakal terdampak atau sirna menyusul kian pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada 2030. Bahkan, sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diproyeksikan bakal mengalami pergeseran besar-besaran.

Kendati demikian, optimisme di bursa kerja tetap menyeruak. Hal ini seiring dengan potensi lahirnya 170 juta lapangan kerja baru yang mengiringi derasnya arus transformasi digital. Masalah tersebut mengemuka dalam forum Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 yang mengusung tema "Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital" di Jakarta.

Menyikapi fenomena tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Stella Christie, menekankan urgensi penyiapan talenta digital yang mumpuni. Menurutnya, talenta masa depan tidak hanya dituntut mahir menggunakan teknologi, namun wajib mampu mengevaluasi serta mengarahkannya secara kritis. Ia berpendapat transformasi digital bermula dari pola pikir, bukan sekadar urusan teknis teknologi.

β€œDi tengah perubahan yang begitu cepat, kita tidak boleh terjebak pada hype. Yang perlu dikembangkan adalah keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti creative dan analytical thinking, talent management, kepemimpinan, hingga kemampuan beradaptasi. Jika tidak ingin tergantikan dalam jangka pendek, kita harus melatih keterampilan yang tidak mudah direplikasi oleh AI,” kata Stella.

Senada dengan hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan otoritas moneter terus membekali talenta muda dengan kompetensi teknis pada bidang inovasi digital dan kewirausahaan melalui pelbagai inisiatif.

β€œIni adalah momentum bagi kita semua untuk berubah, belajar, dan untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat,” ujar Perry.

Visi pembangunan talenta ini sejatinya telah mengejawantah di sektor swasta. Salah satunya tecermin dari rekam jejak perusahaan teknologi finansial Flip dalam membangun solusi berbasis kebutuhan riil masyarakat.

β€œFlip dimulai dengan memberikan solusi inovatif dari satu masalah finansial yang paling riil, yaitu mengirim uang. Namun seiring kami semakin memahami kebutuhan pengguna, inovasi yang sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan mereka dan memahami kebutuhan mereka,” ujar Rafi Putra Arriyan, Co-founder Flip.

Berawal dari solusi sederhana guna menghapus biaya transfer antarbank, Flip terus berekspansi mengikuti kebutuhan pengguna yang kian kompleks. Layanan mereka kini merambah ke pelbagai lini pembayaran, transfer mancanegara, hingga fitur yang terintegrasi dengan ekosistem digital nasional. Saat ini, Flip telah melayani lebih dari 16 juta pengguna.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More