Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Ledakan AI Dorong Inflasi, Janji Produktivitas Masih Abu-abu

Ledakan AI Dorong Inflasi, Janji Produktivitas Masih Abu-abu
Kecerdasan buatan sebagai teknologi yang berpotensi dimanfaatkan untuk hoaks AI voice manipulation. (istockphoto.com)

Jakarta, FORTUNE - Kecerdasan buatan (AI) digadang-gadang menjadi mesin utama lonjakan produktivitas ekonomi berikutnya. Namun sebelum manfaat itu terwujud, teknologi ini justru mulai memberi tekanan biaya yang dirasakan langsung oleh masyarakat, serta memunculkan keraguan apakah janji tersebut benar-benar akan terealisasi.

Pandangan ini tercermin dari riset di Wall Street dan sentimen publik. Goldman Sachs, J.P. Morgan Asset Management, dan Stifel sepakat bahwa pembangunan ekosistem AI saat ini bersifat inflasioner, sementara manfaat produktivitas yang dijanjikan masih belum terlihat nyata. Di sisi lain, kritik terhadap AI kian menguat, termasuk dari para pekerja yang justru paling terdampak oleh implementasinya.

Melansir Fortune.com, ekonom Goldman Sachs, Manuel Abecasis, dalam riset terbaru memperkirakan tekanan harga akibat AI telah menambah sekitar 0,3 poin persentase pada inflasi inti PCE tahunan dan 0,1 poin pada inflasi inti CPI dalam setahun terakhir. Tekanan serupa diproyeksikan berlanjut dalam 12 bulan ke depan. Sementara itu, analis Stifel menyebut fenomena ini sebagai “pergeseran rezim” makroekonomi, dengan 2026 menjadi pertama kalinya dalam 65 tahun harga barang teknologi naik lebih cepat dibandingkan upah.

Ada tiga jalur utama yang mendorong inflasi dari ledakan AI. Pertama, lonjakan permintaan perangkat keras. Kebutuhan besar terhadap infrastruktur AI mendorong kenaikan harga komponen penting seperti memori digital dan baterai, yang kemudian merambat ke harga produk elektronik konsumen. Goldman memperkirakan harga komputer dan ponsel non-Apple dapat naik sekitar 10 persen tahun ini.

Kedua, kenaikan harga perangkat lunak. Banyak perusahaan memanfaatkan fitur AI untuk menaikkan biaya langganan. Microsoft, misalnya, menaikkan harga langganan M365 sebesar 30 persen pada Januari 2025, sementara Adobe dan Intuit juga menaikkan harga produk mereka secara signifikan. Goldman mencatat kenaikan ini tercermin sebagai inflasi murni, tanpa penyesuaian kualitas dalam data statistik.

Ketiga, lonjakan konsumsi listrik. Pusat data yang menopang AI membutuhkan energi dalam jumlah besar. Produksi listrik AS yang sebelumnya stagnan kini meningkat, didorong oleh kebutuhan data center. Hal ini turut mendorong kenaikan tarif listrik konsumen, yang diperkirakan menambah tekanan inflasi dalam beberapa tahun ke depan.

Meskipun demikian, tidak semua pihak yakin bahwa dampak jangka panjang AI akan positif. Ekonom Steve Hanke menyebut AI “tidak memenuhi janji”, bahkan menganggapnya terlalu dilebih-lebihkan dan berpotensi berbahaya. Pandangan ini sejalan dengan Yann LeCun yang menilai model AI saat ini masih memiliki pemahaman yang dangkal terhadap realitas.

Data juga menunjukkan bahwa investasi besar di AI belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Goldman mencatat investasi sekitar US$700 miliar pada 2025 nyaris tidak berkontribusi pada pertumbuhan PDB AS secara keseluruhan.

Di sisi tenaga kerja, resistensi terhadap AI mulai terlihat, terutama dari generasi muda. Survei Gallup menunjukkan minat Gen Z terhadap AI menurun, sementara tingkat kecemasan dan penolakan meningkat. Bahkan, sebagian pekerja muda mengaku sengaja menghambat implementasi AI di tempat kerja.

Dalam jangka panjang, Goldman tetap melihat potensi AI sebagai faktor penurun inflasi ketika produktivitas meningkat secara luas. Namun, manfaat tersebut diperkirakan masih membutuhkan waktu. Dalam jangka pendek, tekanan inflasi justru berpotensi meningkat, bahkan mendekati 3,9 persen, jauh di atas target bank sentral AS sebesar 2 persen.

Dengan kondisi tersebut, era AI saat ini menghadapi tiga tantangan sekaligus: tekanan inflasi, krisis kepercayaan, dan meningkatnya resistensi dari masyarakat yang mulai meragukan apakah manfaat besar yang dijanjikan benar-benar akan terwujud.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Related Articles

See More

Ledakan AI Dorong Inflasi, Janji Produktivitas Masih Abu-abu

05 Mei 2026, 13:25 WIBTech