Hendra Lembong: Teknologi Kecerdasan Buatan Bak Pisau Bermata Dua
- Hendra Lembong menilai teknologi AI dan LLM membawa efisiensi besar bagi perbankan, namun juga menghadirkan risiko keamanan siber yang perlu diantisipasi secara serius.
- BCA telah mengembangkan sistem LLM internal untuk call center yang berhasil menurunkan 60% volume pertanyaan nasabah dalam dua bulan pertama penerapan.
- Risiko siber kini dianggap sebagai risiko bisnis utama, dengan tren kejahatan digital makin kompleks seperti deepfake, voice cloning, dan kebocoran data pribadi jutaan nasabah.
Jakarta, FORTUNE – Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuka cakrawala baru bagi efisiensi industri perbankan nasional. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko keamanan siber yang kian kompleks dan patut diwaspadai.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hendra Lembong, dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (13/5). Hendra, yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), mengibaratkan kemajuan teknologi ini laksana pisau bermata dua.
“Kita harus terus fokus [investasi] di teknologi supaya [hacker] tidak [melancarkan] social engineering. Memang ini pisau bermata dua teknologi ini,” ujar Hendra.
Dia berbagi cerita mengenai pengalaman perseroan yang dipimpinnya dalam mengembangkan teknologi Large Language Model (LLM) secara mandiri. Teknologi tersebut diterapkan pada sistem call center guna meringankan beban operasional bank.
Hasilnya tergolong impresif. Pemanfaatan LLM terbukti mampu menekan volume keluhan serta pertanyaan masyarakat terkait produk perbankan.
“Memang luar biasa impact LLM ini. Kalau kita coba use case di call center, WhatsApp [pertanyaan] yang masuk dalam dua bulan turun langsung 60 persen bisa di-handle oleh LLM,” katanya.
Kendati teknologi tersebut menawarkan efisiensi, Hendra mewanti-wanti bahwa perluasan teknologi niscaya memperlebar ruang risiko. Kejahatan siber kini bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan telah menjelma menjadi risiko bisnis yang mengancam kepercayaan publik.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) memperkuat kekhawatiran tersebut. Sebanyak 432.637 laporan penipuan daring terjadi dengan nilai kerugian mencapai Rp9,1 triliun sepanjang periode November 2024 hingga Januari 2026.
“Risiko siber tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata, tapi risiko bisnis, risiko operasional, bahkan risiko kepercayaan publik terhadap industri perbankan,” kata Hendra.
Sehubungan dengan itu, Lintasarta memproyeksikan tren ancaman siber pada 2026 akan semakin pelik. Para pelaku kejahatan ditengarai mulai memanfaatkan AI untuk melancarkan aksi seperti deepfake, kloning suara (voice cloning), hingga otomatisasi pengembangan perangkat lunak jahat (malware).
Sektor finansial juga dibayangi oleh ancaman kebocoran data pribadi (PII). Sebagai catatan, insiden kebocoran data yang menimpa lebih dari 1,4 juta nasabah di Indonesia pada 2025 menjadi pelajaran pahit bagi industri keuangan nasional. Oleh karena itu, investasi pada sistem keamanan siber dipandang sebagai sebuah keniscayaan bagi perbankan modern.


















