Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Purbaya Nilai Bank Dunia Salah Hitung Proyeksi Ekonomi Indonesia
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers terkait kebijakan transportasi dan BBM di Jakarta, Senin (6/4). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia untuk 2026 dinilai terlalu rendah.

  • Purbaya menduga penurunan proyeksi dipengaruhi asumsi harga minyak global yang tinggi.

  • Pemerintah tetap berkonsentrasi menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan fundamental domestik, kesiapan sistem keuangan, serta peningkatan iklim investasi di tengah tekanan eksternal.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, merespons penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 oleh Bank Dunia.

Purbaya mengacu pada kinerja ekonomi awal tahun yang dinilainya masih terjaga.

“Pada triwulan pertama [pertumbuhan ekonomi] 5,5–5,6 persen. Berarti World Bank menghitung kita mau resesi, turun ke bawah sekali setelah itu kalau rata-ratanya 4,6. Saya pikir World Bank salah hitung,” kata dia saat ditemui di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (9/4).

Ia menduga proyeksi yang lebih rendah itu dipengaruhi asumsi tingginya harga minyak global. Menurutnya, jika harga energi kembali normal dalam waktu dekat, maka proyeksi tersebut berpotensi berubah.

“Kalau sebulan dari sini harga minyak turun ke level normal lagi, World Bank pasti akan berubah prediksinya,” kata Purbaya.

Lebih jauh, ia menilai penurunan proyeksi tersebut telah memicu sentimen negatif terhadap Indonesia.

“[Bank Dunia] sudah melakukan dosa besar. [Bank Dunia] menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal,” ujarnya.

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah akan tetap fokus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui penguatan fundamental domestik.

“Yang penting bagi kami adalah memastikan program-program yang memang baik, sistem keuangan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan iklim investasi membaik,” katanya.

Ia juga menambahkan adanya optimisme mengenai akan membaiknya kondisi perekonomian.

“Saya sih akan optimalkan semua mesin ekonomi yang ada di sini. Mungkin saja World Bank betul, tapi saya enggak tahu, yang jelas kalau di angka saya sih sedang membaik dan akan kita jaga terus,” ujar Purbaya.

Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, dari sebelumnya 4,8 persen pada Oktober 2025. Revisi ini dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.

Meski begitu, Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki bantalan ekonomi yang cukup kuat, termasuk dari pendapatan ekspor komoditas dan berbagai inisiatif investasi pemerintah yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi.

 

Editorial Team