Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi nilai tukar rupiah yang tertekan disebut mirip dengan kondisi 1998. Pada hari ini (18/5), rupiah ditutup melemah menjadi Rp17.666.
Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan kondisi tahun 1998 karena Indonesia belum mengalami resesi dan pertumbuhan ekonomi masih berjalan.
“Ini kan banyak sentimen, kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, kalau 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instabilitas sosial politik terjadi setahun setelah resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” katanya di Jakarta, Senin (18/5).
Ia mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih tumbuh sehingga masih terdapat ruang untuk perbaikan.
“Kita kan sekarang belum resesi, ekonomi masih tumbuh kencang. Jadi masih ada ruang untuk memperbaiki,” ujar Purbaya.
Menteri Keuangan juga meminta kepada investor untuk tidak panik menghadapi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada hari ini, IHSG ditutup melemah 1,85 persen menjadi 6.599,24.
“Kalau saya bilang jangan takut, serok bawah sekarang, kalau lihat teknikalnya sehari dua hari sudah balik, jadi jangan lupa beli saham,” katanya.
Selanjutnya, pemerintah juga berencana melakukan intervensi ke pasar obligasi untuk membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah tersebut juga dilakukan untuk menjaga investor asing agar tidak melepas kepemilikan obligasi akibat kekhawatiran terhadap potensi kerugian dari penurunan harga obligasi.
"Hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali, sehingga asing yang pegang obligasi enggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," ujarnya.
