Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Sederet Proyek Demi Merealisasikan Setop Impor Garam 2027
potret petani garam (kkp.go.id)
  • Pemerintah menargetkan penghentian impor garam pada 2027 melalui pembangunan industri baru, optimalisasi lahan produksi, dan kolaborasi lintas sektor.

  • PT Garam mengembangkan kawasan Sentra Garam Nasional di Rote Ndao seluas 13.000 hektare.

  • Berbagai proyek hilirisasi dan kerja sama BUMN ditargetkan menambah kapasitas produksi nasional 4–5 juta ton per tahun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pemerintah terus memacu berbagai proyek strategis demi mewujudkan target ambisius: menghentikan impor garam pada 2027. Upaya ini dilakukan melalui pembangunan industri baru, optimalisasi lahan produksi, hingga kolaborasi dengan sejumlah perusahaan besar lintas sektor.

Direktur Utama PT Garam, Abraham Mose, menyatakan Indonesia masih menghadapi kesenjangan produksi garam yang cukup besar, mencapai sekitar 4 juta ton per tahun.

“Produksi garam petani saat ini baru sekitar 1,9 juta ton. Artinya masih ada kekurangan yang harus kita penuhi melalui pembangunan industri,” kata dia dalam acara rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR-RI yang disiarkan secara virtual, Senin (30/3).

Salah satu langkah konkretnya adalah pembangunan kawasan produksi garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digarap bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP). Pada April mendatang, proyek tahap awal ditargetkan rampung dengan kapasitas produksi sekitar 100.000 hingga 150.000 ton per tahun.

Secara keseluruhan, kawasan sentra garam nasional di Rote Ndao akan dikembangkan hingga mencakup 13.000 hektare dengan estimasi produksi mencapai 2,6 juta ton per tahun.

Tidak hanya mengandalkan lahan, PT Garam juga mulai memperkuat hilirisasi melalui pembangunan fasilitas produksi. Pada Februari lalu, perusahaan telah melakukan groundbreaking tiga proyek sekaligus.

Pertama, pembangunan pabrik Segoromadu 2 dengan kapasitas 80.000 ton per tahun. Kedua, kerja sama dengan Unilever di Gresik, Jawa Timur guna memproduksi garam menggunakan teknologi penyedotan air laut langsung tanpa mengandalkan evaporasi matahari, dengan kapasitas sekitar 100.000 ton per tahun.

Ketiga, kolaborasi dengan perusahaan asal Cina untuk proyek di Sampang, Madura, dengan kapasitas mencapai 200.000 ton per tahun.

PT Garam juga menjajaki sinergi dengan berbagai BUMN demi mengoptimalkan sumber daya yang ada. Bersama PLN, misalnya, garam akan diproduksi dari pemanfaatan air sisa pendinginan boiler di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya, Cilegon, dengan potensi produksi hingga 700.000 ton per tahun.

Selain itu, kerja sama dengan Pupuk Indonesia akan difokuskan pada produksi soda ash, sementara kolaborasi dengan Pertamina melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Bontang diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 1 juta ton garam per tahun.

Secara keseluruhan, berbagai proyek tersebut ditargetkan mampu menambah kapasitas produksi nasional hingga 4–5 juta ton per tahun. Dengan tambahan ini, Mose menyakini kebutuhan garam dalam negeri dapat dipenuhi tanpa impor.

“Kami mempersiapkan semua pembangunan industri kita itu diharapkan bisa selesai 2027,” ujarnya.

 

Editorial Team