Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Utilisasi Industri Mamin Naik ke 80 Persen Jelang Lebaran
Ilustrasi minimarket (unsplash.com/Juanvisuals Photogaphy)
  • Kenaikan utilisasi industri makanan dan minuman menunjukkan peningkatan produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan masyarakat.

  • Pemerintah menyiapkan langkah menjaga pasokan bahan baku melalui neraca komoditas serta koordinasi lintas kementerian.

  • Sektor industri agro tetap menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi besar terhadap PDB.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memaklumatkan tingkat utilisasi industri makanan dan minuman (mamin) yang meningkat signifikan menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun ini. Kenaikan ini mencerminkan langkah pelaku industri dalam menggenjot produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode hari besar keagamaan tersebut.

Inspektur Jenderal Kementerian Perindustrian, Muhammad Nur, mengatakan saat ini utilisasi industri mamin berkisar 70-80 persen.

“Meningkat dari rata-rata utilisasi sebesar 60 persen,” kata Nur di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (10/3).

Menurutnya, peningkatan utilisasi tersebut menunjukkan produsen makanan dan minuman mulai meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi lonjakan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri. Momentum Lebaran memang menjadi salah satu periode puncak permintaan produk makanan dan minuman di dalam negeri.

Untuk menjaga kelancaran produksi, pemerintah juga menyiapkan berbagai langkah guna memastikan ketersediaan bahan baku industri. Kementerian Perindustrian bersama kementerian dan lembaga terkait memaksimalkan penggunaan instrumen neraca komoditas sebagai acuan dalam mengelola pasokan bahan baku.

Nur mengatakan koordinasi lintas kementerian juga dilakukan untuk menjaga kelancaran distribusi logistik selama periode mudik Lebaran.

Secara keseluruhan, sektor industri agro masih menjadi tulang punggung industri pengolahan nasional. Sepanjang 2025, sektor ini menyumbang 52,09 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri nonmigas, dengan kontribusi sekitar 9 persen terhadap PDB nasional.

Kinerja sektor ini juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pada 2025, industri agro tumbuh 4,95 persen. Nilai ekspornya mencapai US$78,77 miliar, sementara nilai impor mencapai US$21,19 miliar.

“Dengan demikian, sektor ini masih melanjutkan neraca dagang positif sebesar US$57,58 miliar,” kata Nur.

Dari sisi investasi, sektor industri agro juga terus menarik minat investor. Hingga Agustus 2025, nilai investasi pada sektor ini mencapai Rp191,7 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 10 juta orang.

Memasuki awal 2026, kepercayaan pelaku industri juga masih terjaga. Hal itu tecermin pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang tetap berada pada zona ekspansi.

“Memasuki tahun 2026, kita patut berbangga melihat IKI tetap berada di jalur ekspansi pada level 54,02,” ujar Nur.

Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau potensi dampak eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap industri agro. Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, mengatakan hingga saat ini sektor tersebut belum terdampak langsung oleh konflik tersebut.

Namun demikian, pemerintah dan pelaku industri tetap mencermati kemungkinan lonjakan biaya, terutama pada sektor logistik dan distribusi.

“Kami dengan Pak Menteri [Agus Gumiwang Kartasasmita] sudah beberapa kali rapat pimpinan untuk melakukan asesmen dan memantau terus perkembangannya. Jadi, sudah kami coba cari alternatif-alternatif mitigasinya,” ujar Putu.

Editorial Team