Jakarta, FORTUNE - Harga emas dinilai masih berpeluang mencetak rekor tertinggi baru atau all-time high (ATH) di tengah berlanjutnya ketidakpastian global dan meningkatnya risiko geopolitik. Sejumlah bank besar global bahkan memperkirakan harga emas dapat menembus level US$6.000 per troy ons.
Menurut Trading Economics, harga emas tercatat US$4.700 per troy ons pada hari ini (13/5).
Head of Asia-Pacific ex-China dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan mengatakan saat ini pasar emas masih memiliki momentum yang kuat, meski World Gold Council (WGC) tidak memberikan proyeksi resmi terkait harga emas.
“Kami tidak menyiapkan forecast harga emas, tapi secara umum memang ada momentum di pasar emas,” ujarnya dalam media briefing Gold Demand Trends Q1 2026, Rabu (13/5).
Menurut Shaokai, ketidakpastian global dan berbagai potensi guncangan ekonomi maupun geopolitik masih menjadi faktor utama yang dapat menopang reli harga emas ke depan.
“Kalau ketidakpastian global dan guncangan-guncangan ini masih terus terjadi, maka tentunya semua ini dapat menjadi katalis terhadap kenaikan harga emas,” katanya.
WGC sebelumnya mencatat permintaan emas global tetap kuat pada kuartal I-2026 meski pasar keuangan dibayangi volatilitas tinggi. Permintaan emas dunia naik 2 persen secara tahunan, sedangkan nilainya melonjak 74 persen didorong kenaikan harga emas global.
Di Indonesia, tingginya minat terhadap emas juga tercermin dari lonjakan permintaan emas batangan dan koin sebesar 47 persen secara tahunan menjadi 23,6 ton pada kuartal I-2026. WGC menyebut capaian tersebut menjadi salah satu kuartal terkuat dalam sejarah permintaan emas ritel nasional.
Meski terdapat peningkatan permintaan dari emas batangan dan koin, volume permintaan perhiasan justru turun tajam 23 persen (yoy) menjadi 300 ton sebagai respons terhadap tingginya harga.
Penurunan terjadi di seluruh pasar utama, seperti Tiongkok yang turun 32 persen, India turun 19 persen, Timur Tengah melemah 23 persen, dan Indonesia turun 20 persen.
Analisis pasar menunjukkan bahwa sebagian permintaan perhiasan telah beralih ke permintaan emas batangan dan koin, terutama di pasar seperti Tiongkok dan India, ketika perhiasan dapat berfungsi sebagai instrumen investasi alternatif.
