Jakarta, FORTUNE - Pemerintah mulai memperluas sasaran investor Sukuk Tabungan seri ST016 dengan membidik diaspora Indonesia di berbagai negara. Kelompok masyarakat Indonesia di luar negeri dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan investasi syariah sekaligus memperkuat promosi ekonomi syariah nasional di tingkat global.
Penawaran ST016 dijadwalkan berlangsung pada 8 Mei hingga 3 Juni 2026. Di tengah upaya memperluas basis investor, diaspora dipandang tidak hanya berperan sebagai sumber devisa, tetapi juga jembatan pengenalan produk investasi syariah Indonesia ke pasar internasional.
Direktur Utama Bank Syariah Matahari, Muhammad Iman Sastra, Mihajat mengatakan sukuk negara masih menjadi pilihan investasi yang diminati masyarakat Indonesia di luar negeri karena menawarkan tingkat keamanan tinggi dan pajak yang relatif rendah.
“Kalau dilihat dari sisi keamanan, sukuk negara itu sangat aman karena dijamin negara. Jadi kemungkinan uang tidak kembali itu sangat kecil,” ujar Iman dalam Webinar EKSYAR Diaspora dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) bertema Peran Strategis Diaspora dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Syariah melalui Optimalisasi Investasi ST016 pada Tingkat Global dan Nasional di Jakarta, yang digelas secara hybrid, dikutip Jumat (8/5).
Menurut dia, banyak diaspora tetap tertarik menempatkan investasi di Indonesia meski telah lama tinggal di luar negeri. Selain faktor kedekatan emosional dengan Tanah Air, instrumen investasi domestik juga dinilai masih memberikan imbal hasil kompetitif.
“Bagaimanapun juga, pada akhirnya banyak diaspora ingin kembali ke Indonesia. Karena itu mereka tetap melihat investasi di Indonesia menarik,” katanya.
Iman menambahkan, investor sukuk ritel saat ini mulai didominasi generasi muda seperti generasi Z dan milenial. Karena itu, pendekatan sosialisasi produk investasi syariah dinilai perlu menyesuaikan pola komunikasi digital yang lebih dekat dengan anak muda.
Di sisi lain, perluasan pasar sukuk ke diaspora masih menghadapi sejumlah tantangan. Koordinator PPI Dunia/PPI Yordania, Andika Ibrahim Nasution, menilai persoalan utama bukan sekadar rendahnya literasi, tetapi juga cara membangun citra dan positioning produk ekonomi syariah Indonesia di pasar global.
Menurut dia, banyak diaspora sebenarnya telah mengenal instrumen investasi syariah Indonesia, tetapi belum menjadikannya sebagai bagian utama dari portofolio investasi mereka.
“Awareness-nya sebenarnya sudah ada, tapi belum banyak yang benar-benar masuk. Jadi bukan cuma soal literasi, tapi juga positioning,” ujar Andika.
Ia menilai ekonomi syariah Indonesia selama ini masih terlalu sering dipandang sebagai produk domestik, padahal berpeluang berkembang menjadi produk global jika dikemas dengan pendekatan yang tepat. “Ekonomi syariah kita sering diposisikan hanya sebagai produk domestik, padahal sebenarnya bisa menjadi produk global kalau framing-nya tepat,” katanya.
Selain itu, Andika menyoroti proses investasi lintas negara yang dinilai masih cukup rumit bagi diaspora Indonesia. Menurut dia, diaspora seharusnya tidak hanya ditempatkan sebagai target promosi, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan ekonomi syariah nasional. “Diaspora jangan hanya dijadikan target sosialisasi, tetapi juga mitra untuk mengembangkan ekonomi syariah ke depan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Head of Financial Controlling, Airbus Helicopters Arabia, Harri Gemilang. Ia menilai pendekatan promosi sukuk negara perlu dibuat lebih modern agar mampu menjangkau diaspora muda secara lebih luas.
Menurut Harri, penyampaian produk investasi selama ini masih terlalu formal dan belum cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari diaspora. “Kalau mau menjangkau diaspora lebih luas, visual dan model digitalnya perlu lebih modern. Storytelling-nya juga harus lebih dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.
Ia mencontohkan komunitas diaspora di Arab Saudi yang dinilai efektif membangun kepercayaan investor melalui pendekatan berbasis komunitas, mulai dari organisasi pelajar, komunitas profesional, pengajian, hingga sekolah Indonesia di luar negeri.
Harri menambahkan, kepemilikan sukuk negara kini tidak lagi semata soal kupon dan tenor investasi, tetapi juga bagian dari perencanaan masa depan keluarga diaspora Indonesia.
Sebagai informasi, Kementerian Keuangan sebelumnya telah menerbitkan ORI029 pada Januari–Februari 2026 dan SR024 pada Maret–April 2026 sebelum melanjutkan penawaran Sukuk Tabungan seri ST016 tahun ini.
