Jakarta, FORTUNE - Tekanan krisis energi dan target net zero emission (NZE) 2050 mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan konsumsi energi, tidak lagi semata bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku pengguna. Data United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan operasional bangunan menyerap 34 persen energi global dan menghasilkan 37 persen emisi karbon. Di Indonesia, sektor residensial dan komersial bahkan menguasai lebih dari 61 persen konsumsi listrik nasional, dengan potensi pemborosan ekonomi mencapai Rp20 triliun per tahun akibat inefisiensi penggunaan energi.
Distinguished Prof. Dr. Tegar Septyan Hidayat, pakar global di bidang manajemen inovasi dan teknologi sekaligus Chairman TEG Institute, mengidentifikasi bahwa hambatan ini berakar pada tembok psikologis yang disebut sebagai Eco-Cognitive Burden (Beban Eko-Kognitif).
"Krisis iklim sering disajikan melalui narasi kiamat abstrak yang memicu kesenjangan antara niat dan aksi nyata. Masyarakat tidak bertindak bukan karena apatis, melainkan karena krisis ini tidak kasatmata di ruang tamu dan meja kerja mereka. Kita juga menghadapi fenomena Human-Earth Burnout. Bumi yang kritis tidak mungkin diselamatkan oleh kondisi yang terus-menerus ditekan dengan narasi pengorbanan dan kelelahan mental," ujarnya dalam keterangan kepada Fortune Indonesia, Kamis (23/4).
Dalam konteks ini, TEG Institute mengembangkan platform GameTwinZero yang menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi imersif untuk meningkatkan efisiensi energi. GameTwinZero dikembangkan dalam kerangka Game-As-Reality (GAR), yang memanfaatkan kombinasi AI dan augmented reality untuk memetakan ruang serta mengidentifikasi potensi inefisiensi energi. Teknologi ini dapat bekerja melalui kamera tanpa memerlukan perangkat tambahan, sekaligus mengubah aktivitas penghematan energi menjadi interaksi yang lebih aplikatif.
Dalam implementasinya, platform digunakan di sektor industri untuk memetakan tata letak dan peralatan, guna menekan kebocoran energi serta risiko stres termal pekerja. Di tingkat rumah tangga, sistem membantu mendeteksi penggunaan listrik yang tidak efisien, sementara di ruang publik mendorong mobilitas rendah emisi.
Uji coba di Indonesia menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Platform ini diklaim meningkatkan literasi energi dan perilaku keberlanjutan lebih dari 90 persen, sekaligus menurunkan konsumsi energi yang diklaim mencapai hingga 15–22 persen. Selain itu, tingkat keterlibatan pengguna meningkat 60 persen, serta mendorong mobilitas aktif yang selaras dengan standar World Health Organization.
Dalam simulasi lintas negara, teknologi ini juga menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup tinggi. Pengujian di enam negara di empat benua mencatat peningkatan efisiensi energi sebesar 10–16 persen, sehingga membuka peluang penerapan yang lebih luas secara global.
Prof. Tegar menilai, pengembangan teknologi ke depan perlu mengintegrasikan aspek manusia sebagai faktor utama dalam transformasi energi. "Menghadapi lanskap geopolitik yang rapuh, infrastruktur iklim yang paling tangguh bukanlah sekadar perangkat keras, melainkan pola pikir manusianya. Kita harus menjadikan pelestarian bumi tidak boleh lagi menjadi kewajiban yang memberatkan, melainkan menjadi permainan yang paling memberdayakan manusianya," ujarnya.
