Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluler Seluruh Indonesia (ATSI) merespons permintaan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait penyediaan jaringan internet berkualitas dengan harga terjangkau. Asosiasi menegaskan target tersebut sulit dicapai tanpa adanya insentif kebijakan, terutama penurunan beban biaya regulasi yang kini dinilai memberatkan.
Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, mengatakan saat ini beban regulatory charges di Indonesia mencapai 12 hingga 13 persen dari pendapatan kotor operator. Angka ini pun belum termasuk pajak. Komponen biaya mencakup kewajiban Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Internet itu sudah kebutuhan pokok masyarakat, tetapi pemerintah belum mau turunkan komponen regulatory charges mereka. Komponen yang besar itu untuk regulatory charges yang tampaknya pemerintah masih mengedepankan regime PNBP dan pajak,” ujar Marwan kepada Fortune Indonesia, Jumat (30/1).
Selain masalah biaya, Marwan juga menyoroti pentingnya kemudahan perizinan pengembangan jaringan serat optik (fiber optic), baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, sebagai tulang punggung infrastruktur digital.
Demi mendongkrak kecepatan internet, ATSI mendesak percepatan lelang spektrum frekuensi 5G. Dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Komdigi menyatakan telah menyiapkan pelepasan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.
Spektrum 700 MHz difokuskan untuk memperluas jangkauan layanan mobile broadband dan pemerataan sinyal. Sementara itu, spektrum 2,6 GHz diarahkan untuk peningkatan kapasitas guna mendukung target kecepatan unduh 100 Mbps pada 2029.
Sebagai perbandingan, hingga 2025, rata-rata kecepatan unduh mobile broadband Indonesia baru mencapai 63,51 Mbps.
Pemerintah menargetkan jaringan 5G dapat mencakup 8,5 persen luas pemukiman Indonesia sepanjang 2026, meningkat dari realisasi 2025 yang menjangkau 6,33 persen.
Di tengah tekanan regulasi dan kebutuhan investasi, kinerja operator seluler pada kuartal III-2025 menunjukkan tren bervariasi. XLSMART mencatatkan rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) Rp39.000, tumbuh double digit dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Sebaliknya, ARPU Telkomsel mencapai Rp42.400 alias terkoreksi 4,7 persen secara tahunan (year-on-year).
Sementara itu, Indosat mencetak pertumbuhan ARPU 3,8 persen secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp40.000.
