Jakarta, FORTUNE - Kinerja OpenAI sepanjang 2025 menunjukkan akselerasi yang tajam. Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, mengungkapkan pendapatan tahunan perusahaan telah melampaui US$20 miliar atau setara sekitar Rp339 triliun. Capaian ini melonjak drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$6 miliar atau sekitar Rp101 triliun.
Mengutip Reuters, pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi besar-besaran pada infrastruktur komputasi. Dalam unggahan di blog resmi OpenAI pada Minggu lalu, Friar menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan berjalan seiring dengan pembesaran kapasitas daya komputasi perusahaan.
Pada 2025, kapasitas komputasi OpenAI tercatat mencapai 1,9 gigawatt (GW), melonjak signifikan dari 0,6 GW pada 2024. Tak hanya dari sisi finansial, OpenAI juga melaporkan pertumbuhan kuat pada jumlah pengguna aktif harian dan mingguan, yang terus mencetak rekor baru.
Untuk membiayai pengembangan teknologi yang kian mahal, OpenAI mulai mengambil pendekatan monetisasi yang lebih agresif. Pekan lalu, perusahaan mengumumkan dimulainya uji coba penayangan iklan di ChatGPT untuk sebagian pengguna di Amerika Serikat.
Meski belanja infrastruktur tergolong besar, Friar menegaskan OpenAI tetap mempertahankan neraca keuangan yang “ringan” (light balance sheet). Strategi ini dijalankan dengan mengutamakan kemitraan dibanding kepemilikan aset secara langsung, serta menyusun kontrak fleksibel dengan berbagai penyedia layanan dan produsen perangkat keras.
Di saat yang sama, OpenAI juga mulai melirik pengembangan perangkat keras. Mengutip Axios, Chief Policy Officer OpenAI Chris Lehane menyatakan perusahaan berada di jalur yang tepat untuk meluncurkan produk hardware pertamanya pada paruh kedua 2026.
Terkait arah pengembangan teknologi, Friar menjelaskan bahwa setelah menguasai kapabilitas teks, gambar, suara, hingga kode, fase berikutnya akan berfokus pada AI agents dan otomatisasi alur kerja (workflow automation). Teknologi ini dirancang agar mampu bekerja secara berkelanjutan, memahami konteks jangka panjang, serta mengambil tindakan lintas platform dan alat kerja.
Memasuki 2026, OpenAI akan memprioritaskan “adopsi praktis” AI, dengan sektor kesehatan, sains, dan enterprise sebagai fokus utama. Di tengah perbincangan mengenai model bisnis OpenAI, perusahaan akhirnya mengonfirmasi rumor lama soal strategi pendapatan baru melalui iklan.
Mengutip TechCrunch, OpenAI menyatakan akan mulai menguji penayangan iklan untuk pengguna ChatGPT di Amerika Serikat. Uji coba ini menyasar pengguna paket gratis dan ChatGPT Go, dengan tujuan menjaga layanan gratis tetap tersedia sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan dari pengguna yang belum berlangganan.
Dalam penjelasannya, OpenAI menyebut iklan akan ditampilkan di bagian bawah percakapan dan disesuaikan dengan topik yang sedang dibahas. Meski demikian, perusahaan menegaskan pengalaman pengguna tetap menjadi prioritas. Pengguna tetap memiliki kendali penuh, mulai dari menutup iklan, mengetahui alasan iklan ditampilkan, hingga menonaktifkan personalisasi agar iklan tidak ditargetkan berdasarkan percakapan.
OpenAI juga memastikan tidak akan menampilkan iklan kepada pengguna yang diperkirakan berusia di bawah 18 tahun. Selain itu, iklan hanya akan muncul pada akun gratis dan ChatGPT Go. Pengguna Pro, Plus, Business, dan Enterprise dipastikan bebas dari iklan.
Dari sisi bisnis, kebijakan ini membuka peluang baru. Pendapatan iklan diharapkan dapat menopang keberlanjutan layanan gratis, sekaligus mendorong sebagian pengguna beralih ke paket berlangganan tanpa iklan.
Menjawab kekhawatiran publik, OpenAI menegaskan iklan tidak akan memengaruhi independensi jawaban ChatGPT. Perusahaan juga memastikan tidak menjual data pengguna kepada pengiklan, serta tidak memanfaatkan data percakapan untuk kepentingan komersial di luar penayangan iklan yang transparan.
