Jakarta, FORTUNE - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) berbasis agen mulai mengubah peta risiko keamanan siber perusahaan. Ketika agen AI semakin mampu menjalankan tugas secara otonom di berbagai aplikasi pemrograman antarmuka (API) dan sistem, perusahaan menghadapi tantangan baru bagaimana mengawasi entitas non-manusia tersebut.
Akamai Technologies Inc. dalam laporan State of the Internet (SOTI) terbarunya bertajuk: The Agentic Frontier: Speed, Scale, and Nonhuman Identity menyebut, pengamanan perusahaan kini tidak hanya cukup berfokus pada identitas dan akses pengguna manusia. Perusahaan perlu memperluas tata kelola hingga ke perilaku entitas non-manusia yang dapat mengambil tindakan secara mandiri.
Laporan tersebut menyoroti dua tantangan utama: sulitnya menetapkan batasan bagi agen AI otonom dan meningkatnya kecepatan AI dalam menemukan kerentanan yang dapat melampaui siklus pembaruan keamanan yang dilakukan manusia.
Chief Security Officer Akamai, Boaz Gelbord mengatakan perkembangan AI menciptakan sejumlah risiko secara bersamaan, baik dari penggunaan AI di dalam perusahaan, integrasi AI ke dalam produk dan beban kerja cloud, maupun serangan siber yang memanfaatkan AI.
“AI menghadirkan momen ‘everything, everywhere, all at once’ bagi ekosistem keamanan secara keseluruhan,” kata Gelbord dalam keterangannya, Senin (5/10).
