Jakarta, FORTUNE – Dari garasi sempit di Guangzhou, Xpeng tak sekadar merakit mobil listrik. Dengan visi masa depan, He Xiaopeng memimpin perusahaan ini mengembangkan cip berisi kecerdasan buatan, robot humanoid, hingga merancang mobil terbang.
Pada pertengahan April 2025, ketika hari mulai petang di ujung dermaga Kai Tak Cruise Terminal, Hong Kong, suasana tampak berbeda dari biasanya. Dermaga yang biasa digunakan untuk kapal pesiar bersandar, saat itu menjadi area pameran Xpeng Motors. Belasan mobil listrik futuristik hadir, tampak mengilap, dan terparkir rapi membelakangi cakrawala Hong Kong.
Lalu, dari kejauhan, tampak iringan mobil berwarna perak bergerak mulus—seperti dikendalikan sopir berpengalaman—melaju pelan, berhenti dengan presisi, lalu mundur ke tempat parkir sempit tanpa gores. Para pengunjung mendekat, sebagian merekam dengan ponsel. Mereka tampak terkejut ketika melihat dari balik kaca depan, kabin mobil ternyata kosong. Tak ada pengemudi.
Mobil-mobil otomatis itu adalah Xpeng X9, kendaraan multiguna bongsor sepanjang 5,2 meter. Di balik tampangnya yang futuristik, X9 dilengkapi sistem kecerdasan buatan yang mampu mengenali lingkungan, mengambil keputusan, hingga memarkirkan diri tanpa bantuan manusia. Manuver itu menjadi atraksi utama dari pertunjukan dalam ajang Xpeng Global Brand Night 2025, debut besar Xpeng di panggung otomotif dunia.
Keluar dari salah satu kendaraan, pria berperawakan sedang mengenakan jas biru navy, kemeja biru muda, dan celana denim senada. Ia adalah He Xiaopeng, sang pendiri sekaligus CEO Xpeng. Setelah memastikan karyawannya lebih aktif mempromosikan ragam rupa fitur mobil kepada para pengunjung, ia berjalan menuju panggung utama.
Suaranya terdengar sedikit serak, seperti sedang flu.
"Meski dua hari terakhir saya kurang enak badan, tapi malam ini adalah validasi dari satu dekade dedikasi. Saya ingin hadir sepenuhnya untuk menyapa Anda semua," ujar He disambut tepuk tangan meriah para hadirin.
Lahir di kota kecil Huangshi dan besar di Guangzhou, ketertarikan He terhadap teknologi muncul sejak muda. Ia kerap membongkar pasang perangkat elektronik hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya.
Setelah lulus dari South China University of Technology, ia mendirikan UCWeb pada 2004 dan sukses mengembangkan UC Browser hingga memiliki 500 juta pengguna global. Pada 2014, UCWeb diakuisisi oleh Alibaba senilai US$4 miliar—menjadikannya salah satu akuisisi teknologi terbesar di Asia pada masa itu.
Menjadi miliarder pada usia muda—37 tahun kala itu—tak membuat He lekas puas. Dengan dana dari penjualan UCWeb, ia merintis Xpeng Motors bersama sebuah tim kecil berisi insinyur otomotif dan pakar teknologi. Nama Xpeng—dibaca eks-peng—merupakan bentuk sederhana dari namanya sendiri, He Xiaopeng, yang juga digunakan dalam nama resmi perusahaan, Guangzhou Xiaopeng Motors Technology Co. Ltd. Membangun perusahaan yang menyandang nama sendiri, He memang punya cita-cita besar: menciptakan mobil listrik pintar.
Membangun industri otomotif tanpa jaringan distribusi, tanpa pabrik besar, dan tanpa sokongan produsen konvensional tentu bukan hal mudah. Orang-orang di sekeliling He menganggap idenya utopis.
"Kami mulai dari garasi kecil di Guangzhou. Di tahun pertama, kami bahkan tidak punya AC. Banyak orang meragukan kami," kata He.
Mungkin, termasuk dirinya sendiri. Karena itu, ia melanjutkan bekerja di Alibaba Group sebagai eksekutif senior divisi Alibaba Mobile Business hingga 2017. Baru setelah itu, He memutuskan untuk keluar dari Alibaba dan fokus membangun bisnis Xpeng dan merekrut dua insinyur berpengalaman, Xia Heng dan He Tao—yang sebelumnya berkarier di Guangzhou Automobile Group (GAC).
Di saat banyak produsen EV Cina menengok novasi dari Barat, Xpeng memilih mengembangkan hampir seluruh sistemnya secara secara in-house. Mereka membangun sistem operasi kendaraan sendiri, mengembangkan perangkat lunak berkendara otonom, serta menciptakan pengalaman berkendara interaktif melalui teknologi suara dan kecerdasan buatan atau AI.
Peluncuran Xpeng G3 pada 2018 menjadi titik balik. SUV listrik ini menghadirkan fitur-fitur canggih seperti parkir otomatis dan perintah suara, sesuatu yang belum umum di pasar kendaraan listrik kelas menengah saat itu. Dalam 188 hari sejak peluncuran, lebih dari 10.000 unit G3 berhasil diproduksi.
Tak berhenti di sana, pada 2019 Xpeng meningkatkan investasi pada riset dan pengembangan, khususnya pada sektor teknologi otonom. Mereka mengumpulkan pendanaan seri B dari investor besar seperti Xiaomi, GGV Capital, dan Hillhouse Capital senilai US$500 juta.
Tahun 2020 menjadi momen penting ketika Xpeng memutuskan untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) di New York, disusul pencatatan saham ganda di Hong Kong pada 2021. Langkah ini menyelamatkan perusahaan dari tekanan finansial berat akibat ekspansi besar-besaran.
"Anggota tim keuangan kami menangis setelah IPO di AS. Itu momen emosional karena kami hampir kehabisan dana. Tapi kami bertahan," ujar He.
Penggalangan dana itu memang terbilang sukses. Pada Agustus 2020, Xpeng melantai di Bursa Efek New York (NYSE) dengan menjual sekitar 99,7 juta American Depositary Shares (ADS) seharga US$15 per saham dan berhasil mengumpulkan dana sekitar US$1,5 miliar.
Setahun kemudian, pada Juli 2021, Xpeng melakukan pencatatan ganda di Bursa Efek Hong Kong (HKEX) dengan menjual 85 juta saham seharga HK$165 per saham, setara dengan sekitar US$21,25 per saham. IPO ini berhasil mengumpulkan dana sekitar US$1,8 miliar.
Dengan kantong yang bertambah tebal, kemenangan demi kemenangan mulai diraih. Xpeng P7, sedan listrik premium yang diluncurkan pada 2021, menjadi pesaing serius Tesla Model 3. Dilengkapi sistem semi otonom XPILOT 3.0 dan jarak tempuh lebih dari 700 kilometer sekali mengisi daya, mobil ini sukses menarik perhatian pasar global.
