Jakarta, FORTUNE -Industri manufaktur nasional membuka lembaran awal 2026 dengan kinerja impresif. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Januari melesat ke level 54,12, menandai fase ekspansi yang solid sekaligus mencatatkan kenaikan signifikan dibandingkan posisi akhir tahun lalu maupun periode yang sama tahun sebelumnya.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, mengungkap capaian ini didorong oleh basis industri yang luas. Tercatat, 20 subsektor industri berada di zona ekspansif. Dominasi ini penting mengingat kontribusi subsektor tersebut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri mencapai 94,7 persen.
“Itu artinya yang ekspansif ini adalah sektor-sektor yang besar. Dibandingkan dengan bulan Desember 2025, IKI naik sebesar 2,22 poin,” ujar Febri dalam konferensi pers, Kamis (29/1). Secara tahunan (year-on-year), indeks ini juga terapresiasi sebesar 1,02 poin dibandingkan Januari 2025.
Motor penggerak utama pada awal tahun ini adalah industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer (KBLI 29) serta industri mesin dan perlengkapan (KBLI 28). Subsektor otomotif bahkan mencatat rekor tertinggi dengan nilai IKI menembus 62,65.
Febri menganalisis lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama: persiapan musiman menjelang Ramadan dan Idulfitri, serta optimisme regulasi.
“Selain menghadapi permintaan hari besar keagamaan, subsektor otomotif juga merespons positif surat Menteri kepada Menko, meskipun masih dalam tahap pembahasan,” katanya.
Bedah data komponen IKI menunjukkan dinamika operasional yang menarik. Komponen produksi melonjak tajam sebesar 6,45 poin ke level 54,86. Angka ini menjadi titik balik penting karena menandai kembalinya komponen produksi ke zona ekspansi setelah tujuh bulan berturut-turut terperangkap di zona kontraksi.
Sejalan dengan itu, pesanan baru juga meningkat 2,51 poin menjadi 55,27. Di sisi lain, persediaan produk justru melambat signifikan sebesar 4,85 poin menjadi 50,14. Perlambatan penumpukan stok di gudang ini mengindikasikan bahwa barang hasil produksi terserap pasar dengan cepat.
“Kenaikan IKI Januari ini salah satunya karena industri mengintensifkan produksi untuk memenuhi kebutuhan Ramadan, Idulfitri, dan hari besar keagamaan lainnya,” ujar Febri.
Meski tren umum positif, disparitas kinerja masih terlihat. Tiga subsektor masih berkutat di zona kontraksi (di bawah 50), yakni industri kulit dan alas kaki (KBLI 15), industri kayu dan barang dari kayu (KBLI 16), serta industri komputer dan elektronik (KBLI 26).
Kinerja pasar ekspor juga menyajikan tantangan tersendiri. Meski secara umum industri berorientasi ekspor masih ekspansif di level 54,62, beberapa subsektor spesifik seperti alas kaki, logam dasar, serta jasa reparasi mesin justru mengalami kontraksi di pasar luar negeri.
“Industri berorientasi ekspor masih mencermati ketidakpastian global, mulai dari dinamika geopolitik hingga perang tarif antarnegara yang berpengaruh terhadap permintaan,” kata Febri.
Melihat ke depan, sentimen pelaku usaha terpantau sangat positif. Survei Kemenperin mencatat 72,5 persen pelaku usaha optimistis terhadap kondisi bisnis enam bulan mendatang. Dari sisi aktivitas usaha saat ini, 33 persen menyatakan kondisi membaik, sementara hanya 21,4 persen yang menyatakan menurun.
Optimisme ini didukung oleh fondasi makroekonomi yang stabil. Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen, disertai inflasi yang terjaga. Selain itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok IMF sebesar 5,1 persen untuk periode 2026–2027 memberikan kepastian bagi iklim usaha.
“Dengan berbagai indikator tersebut, kami menilai permintaan terhadap industri manufaktur pada 2026 masih akan tetap tinggi, baik dari pasar domestik maupun ekspor,” ujar Febri.
