Jakarta, FORTUNE – Integrasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada platform telemedicine, Alodokter, menunjukkan tingkat akurasi dan keselamatan klinis 98,8 persen berdasarkan studi Stanford King Center on Global Development 2026.
Catatan tersebut memperkuat posisinya sebagai pionir pemanfaatan AI klinis berbasis Large Language Model (LLM) dalam konsultasi medis riil di Indonesia.
Penelitian tersebut meninjau 402 konsultasi dokter umum berbantuan AI pada platform Alodokter. Setiap konsultasi dievaluasi oleh panel independen yang terdiri dari tiga dokter asal Indonesia menggunakan 14 kriteria keselamatan klinis.
Hasil penilaian menunjukkan 397 dari 402 konsultasi (98,8 persen) diklasifikasikan aman secara klinis berdasarkan konsensus panel tersebut.
Alodokter AI tergolong sistem AI klinis berbasis LLM pertama yang diimplementasikan secara langsung dan dievaluasi berdasarkan konsultasi aktual pasien pada seluruh alur telemedicine. Cakupan evaluasinya membentang dari proses pengumpulan informasi, identifikasi tanda bahaya (red flags), penegakan diagnosis, pemberian pengobatan, hingga rujukan dan pemantauan tindak lanjut.
“Dengan mengevaluasi Alodokter AI dalam konsultasi telemedicine yang berlangsung dalam kondisi riil, studi ini membuat evaluasi AI klinis lebih mendekati kondisi nyata dalam penanganan pasien,” ujar Ziad Obermeyer, MD, Associate Professor di UC Berkeley, yang juga merupakan penulis studi tersebut, melalui keterangan resmi yang dikutip Selasa (29/9).
President Director dan Co-Founder Alodokter, Suci Arumsari, mengatakan dalam setiap konsultasi, fitur AI berfungsi membantu dokter mengumpulkan data penting, mengenali indikasi risiko, menilai potensi bahaya penggunaan obat, serta merumuskan opsi penanganan yang sesuai.
Kendati demikian, seluruh rekomendasi tetap ditinjau, disesuaikan, dan disetujui oleh dokter yang menangani. Diagnosis serta pemberian resep obat sepenuhnya tetap menjadi kewenangan penuh tenaga medis.
Suci menegaskan AI klinis Alodokter dibangun demi menjawab skala, kondisi geografis, serta kompleksitas kebutuhan kesehatan di Tanah Air. Tantangan domestik justru dipandang sebagai peluang melahirkan inovasi yang diperhitungkan di tingkat global.
“Indonesia memiliki salah satu sistem layanan kesehatan paling kompleks di dunia. Bagi kami, kondisi ini bukan alasan untuk tertinggal, melainkan kesempatan untuk membangun inovasi AI yang menjawab kebutuhan Indonesia sekaligus dapat menjadi rujukan bagi perkembangan telemedisin di dunia,” kata Suci.
