Jakarta, FORTUNE - Di media sosial, cuplikan micro drama acap kali lewat hingga memantik rasa penasaran. Pasarnya diproyeksi tumbuh signifikan. Para pemain lokal pun mencoba mengoptimalkan potensi ini.
Sama seperti ratusan juta warganet lain, Chacha, 25, juga aktif menggunakan media sosial. Dan bagi orang seumurannya, membuka TikTok sudah jadi rutinitas harian. Jemarinya lincah mengetuk layar ponsel demi mengecek berbagai video di platform itu.
Hingga suatu hari, tayangan iklan menarik perhatiannya. Isinya? Sebuah serial drama pendek dengan format vertikal. “Kok lama-lama seru, jadi ya sudah aku lanjutkan,” katanya (19/3).
Drama pendek berformat vertikal seperti itu disebut micro drama. Durasinya rata-rata hanya beberapa menit per episode. Di media sosial, potongan micro drama memang sering muncul. Khususnya, bagi pengguna yang sebelumnya pernah terpapar konten ini—seperti Chacha.
Karena penasaran dengan kelanjutan cerita yang tayang, Chacha pun mengunduh aplikasi khusus micro drama. Di aplikasi, ia harus membeli koin khusus demi mengakses episode micro drama yang dikunci. Harganya sekitar Rp70.000 per judul.
Bagaimana fenomena ini jika dilihat dari sisi psikologi? Head of Psychology Department BINUS University, Esther Widhi Andangsari, menilai serial micro drama memang erat dengan berbagai emosi yang bisa meningkatkan adrenalin. Mirip seperti saat kita bermain di taman hiburan seperti Dunia Fantasi; menegangkan tetapi menghibur bagi sebagian orang. Emosi-emosi itu dikemas dalam cerita singkat dengan konflik dan tema yang melahirkan keterikatan di sisi penonton.
Belum lagi, keahlian tim produksi yang memotong tayangan di titik krusial memaksa penonton untuk terus merogoh kocek demi mengikuti kelanjutan cerita. “Penonton digiring ke suatu emosi, untuk terbentuk emosinya kuat di titik-titik ekstrem. Bisa marah, kesal, dendam, atau bahkan sedih sekali,” katanya (20/3).
Layaknya candu digital, micro drama kini menjadi sebuah fenomena global. Data RisingJoy, total pengunduh aplikasi micro drama di dunia mencapai 370 juta pada 2024, tanpa memperhitungkan Cina. Dari data itu, Indonesia berada di peringkat 2 pengunduh terbanyak (13,48 persen) setelah Amerika Serikat (15,81 persen). Berdasarkan pendapatan, industri itu telah menghasilkan US$570 juta (Rp9,4 triliun) pada 2024.
Sementara itu, di Cina, pendapatan industri micro drama telah melampaui box office domestik untuk pertama kalinya pada 2024. Riset TikTok for Business melaporkan popularitas micro drama telah meledak sejak 2023. Jumlah pengguna aktif bulanan yang menikmati micro drama diprediksi menyentuh 200–300 juta orang. Valuasi pasarnya juga diperkirakan menyentuh US$10 miliar (Rp165 triliun) beberapa tahun ke depan. Tak heran, para pemilik platform digital di Indonesia pun mulai melirik potensi itu.
