Comscore Tracker
BUSINESS

Sampai September 2021 PGN Masih Melaju, Siapkan Transisi Energi Baru

PGN membidik sejumlah peluang transisi energi terbarukan.

Sampai September 2021 PGN Masih Melaju, Siapkan Transisi Energi BaruUji pasar Gaskita Program PGN Sayang Ibu di Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta, Selasa (21/9). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk—anak usaha PT Pertamina (Persero) pada subholding migas—masih melaju hingga sembilan bulan pertama tahun ini. Perusahaan pun menyebut tengah menyusun rencana untuk melakukan transisi energi ke depannya.

PGN pada Januari–September 2021 mampu menangguk untung US$286,21 juta atau setara Rp4,08 triliun. Labanya melejit 437,4 persen dari US$53,26 juta pada periode sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

“PGN sebagai subholding gas Pertamina terus selalu berupaya untuk meningkatkan kinerja operasi dan keuangan walaupun masih di dalam pandemi COVID-19 dan dalam rangka pemulihan ekonomi. Upaya ini dapat terlihat dalam pencapaian positif dari kinerja perseroan,” kata Direktur Utama PGN, Haryo Yunianto, dalam Public Expose secara daring, Rabu (17/11).

Pendapatan emiten berkode PGAS itu pada periode sama tumbuh 4,8 persen menjadi US$2,25 miliar. Perusahaan juga beroleh pendapatan dari bagian laba ventura bersama US$75,10 juta dan pendapatan dari pembalikan provisi dari sengketa pajak US$65,17 juta.

Posisi kas dan setara kas akhir periode perseroan juga tumbuh 20,0 persen menjadi US$1,43 miliar. Sementara aset naik 0,1 persen menjadi US$7,54 miliar.

Kinerja operasional meningkat

Menurut Haryo, dengan pangsa pasar 92 persen dari total pasar niaga gas di dalam negeri, Pertamina sebagai Holding BUMN Energi tentu mengandalkan subholding gas Pertamina untuk membangun jaringan gas pipa. PGN, katanya, telah memiliki sejumlah kebijakan strategis untuk mencapai target tahun ini.

Berdasarkan catatan perusahaan, Subholding Gas Grup berhasil mencatatkan volume niaga gas pada periode sama sebesar 873 BBTUD, naik ketimbang volume niaga gas 812BBTUD tahun sebelumnya.

Sedangkan pada bisnis Lifting Migas, PGAS juga beroleh volume upstream 6,46 MMBOE, tumbuh dari 5,3 MMBOE. Hal ini karena adanya perbaikan kegiatan operasional dan keberhasilan aktivitas pengeboran dan eksplorasi yang berdampak positif pada peningkatan volume lifting migas, terutama dari Blok Pangkah, Muriah, Ketapang, dan Muara Bakau.

Transisi energi

Haryo Yunianto menambahkan, demi mendukung upaya pemerintah dalam transisi menuju energi baru terbarukan (EBT), perseroan juga turut serta. Menurutnya, energi gas bumi juga merupakan salah satu program transisi energi.

“Nah, PGN sebagai salah satu subholding gas Pertamina Persero di dalam rencana strategis PGN jangka panjang dan ke depan serta dalam rangka transisi energi kami berupaya dan berusaha meningkatkan pemanfaatan gas bumi di dalam transisi energi ini,” katanya.

Saat ini portofolio utama PGN masih pelanggan seperti industri dan rumah tangga. Namun, perusahaan juga sedang melakukan kajian untuk ekspansi ke industri ritel. Sebagai agregator gas di Indonesia, perseroan juga membidik peluang pada pengembangan konversi pembangkit di PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Ini yang saat ini kami sedang persiapkan dan mudah-mudahan pada 2022 kami mulai melakukan piloting serta implementasi dari berbagai macam pola pengembangan,” katanya.

Di tengah pengumuman kinerja dan rencana bisnis, saham PGAS pada perdagangan Rabu (17/11) ditutup ke posisi Rp1.495 per saham. Posisi saham itu naik 30,6 persen dalam enam bulan terakhir dan meningkat 9,5 persen secara tahunan.

Related Articles