Jakarta, FORTUNE - PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas menjalin aliansi dengan New Energy Metals Holdings Ltd (NEM) guna memperkokoh pengelolaan mineral tanah jarang. Melalui Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada Selasa (17/2), kedua perusahaan akan mengevaluasi potensi sumber daya niobium dan rare earth elements (REE) Maboumine di Republik Gabon, sekaligus membangun ekosistem hilirisasi di Indonesia.
Danantara Indonesia selaku lembaga pengelola investasi strategis nasional mengawal penuh langkah tersebut. Keterlibatannya memastikan inisiatif ini searah dengan peta jalan hilirisasi dan penguatan rantai pasok mineral kritis nasional yang menjadi prioritas pemerintah.
Kolaborasi Perminas dan NEM mencakup spektrum luas pengembangan mineral kritis, mulai dari eksplorasi sumber daya, pemrosesan, hingga manufaktur teknologi tingkat lanjut. Sinergi ini ditargetkan mampu menciptakan rantai pasok rare earth yang tangguh dan memiliki daya saing pada level global.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengatakan kepastian akses terhadap input mineral strategis adalah fondasi utama bagi transformasi industri nasional.
“Kerangka kerja sama ini selaras dengan ambisi Indonesia untuk memperkuat kemampuan hilirisasi dan menciptakan rantai nilai mineral kritis yang berorientasi masa depan,” ujar Rosan dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (18/2).
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, menilai kemitraan sebagai penanda \fase baru peran Indonesia di panggung mineral kritis dunia. Ia berpendapat kolaborasi dengan NEM merefleksikan peningkatan kapasitas industri nasional serta tingginya kepercayaan mitra global terhadap potensi Indonesia.
Sebagai BUMN pengelola mineral strategis, Perminas berkomitmen mengintegrasikan potensi sumber daya global dengan penciptaan nilai tambah domestik. President Director Perminas, Gilarsi Wahju Setijono, menyatakan MoU ini membuka jalur terstruktur untuk menilai peluang integrasi dari hulu ke hilir.
“Semua ini selaras dengan tata kelola yang kuat serta prioritas nasional jangka panjang,” ujar Gilarsi.
Sebagai tindak lanjut, pihak-pihak yang terlibat segera membentuk Joint Working Group yang akan menjalankan program kerja terstruktur, mulai dari pertukaran data teknis hingga asesmen komersial. Fokus utama tim ini adalah membangun rantai nilai rare earth, meliputi tahap pemisahan, pemurnian, produksi logam, hingga manufaktur magnet permanen.
Mineral kritis seperti niobium serta unsur tanah jarang—termasuk neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium—merupakan komponen vital bagi teknologi masa depan. Pemanfaatannya mencakup sektor kendaraan listrik (EV), turbin angin, industri pertahanan, hingga perangkat berteknologi tinggi yang mengandalkan magnet permanen berperforma tinggi.
Dalam upaya menangkap peluang tersebut, Perminas dan Danantara juga mengkaji potensi pembiayaan serta investasi strategis pada proyek tambang Maboumine di Gabon. Seluruh proses ini akan melalui uji tuntas (due diligence) yang dipercepat dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap regulasi dan persetujuan internal.
Optimisme serupa disampaikan oleh President NEM, Abduljabbar Alsayegh. Ia mengaku antusias memulai kolaborasi yang dapat mendiversifikasi rantai pasok rare earth dunia.
“Indonesia memiliki visi yang jelas dalam memajukan mineral kritis, dan kami bangga dapat menjadi bagian dari agenda tersebut,” katanya.
