Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
WhatsApp Image 2025-08-28 at 11.37.46.jpeg
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, saat kegiatan Jejak Keberlanjutan Series #2 yang diselenggarakan di Pertamina Kilang Internasional RU IV Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (27/8). (Dok. Pertamina)

Intinya sih...

  • Kilang Cilacap memproduksi SAF dari minyak jelantah pada Juli lalu

  • Inaugural flight dengan Pelita Air berlangsung pada 20 Agustus 2025

  • SAF sudah tersertifikasi oleh RED EU dan ISCC sesuai standar CORSIA

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Setelah memproduksi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF) di Cilacap, PT Pertamina (Persero) berencana memperluas produksinya ke dua kilang strategis lainnya: RU II Dumai dan RU VI Balongan.

Langkah ekspansi melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), ini merupakan wujud komitmen perseroan dalam mendukung transisi energi dan target net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060.

Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menyatakan keberhasilan kilang Cilacap sebagai perintis menjadi model untuk fasilitas lainnya.

“Kilang Cilacap menjadi perintis produksi SAF dan ini bentuk komitmen Indonesia untuk menuju kilang hijau. Perjalanan menuju NZE harus kolektif dan kolaboratif. Saya percaya, kilang lain seperti Dumai dan Balongan juga bisa mewujudkan hal yang sama,” kata Iriawan dalam keterangannya, Kamis (28/8).

Keberhasilan produksi perdana di kilang Cilacap pada Juli 2025 menjadi tonggak sejarah. Produk SAF yang diolah dari minyak jelantah (used cooking oil/UCO) ini telah berhasil dimanfaatkan dalam penerbangan perdana Pelita Air pada 20 Agustus 2025.

Direktur Operasi KPI, Didik Bahagia, menambahkan bahwa inovasi SAF ini telah memenuhi standar kualitas internasional DefStan 91-091. Produk ini juga telah mengantongi sertifikasi dari Renewable Energy Directive European Union (RED EU) dan International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) yang sejalan dengan standar Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA).

Lebih dari sekadar menekan emisi karbon pada sektor aviasi, pengembangan Pertamina SAF juga dirancang untuk menciptakan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menjelaskan inisiatif ini membangun ekosistem ekonomi sirkular.

“Ekosistem Pertamina SAF melibatkan masyarakat dan UMKM untuk mengumpulkan limbah minyak jelantah. Dengan begitu, bukan hanya lingkungan yang diuntungkan, tetapi juga ekonomi sirkuler masyarakat,” kata Fadjar.

Editorial Team