Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Sasa Gandeng Perusahaan Turki, Bidik Ekspor Kelapa Olahan US$1 Juta

3 min read
Sasa Gandeng Perusahaan Turki, Bidik Ekspor Kelapa Olahan US$1 Juta
Veysel Cüneyt Özlen dari Zafer Global Gida dan Agus Nugraha dari PT Sasa Inti menunjukkan dokumen MoU dalam Trade Expo Indonesia 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan/Dok. PT Sasa Inti
  • PT Sasa Inti menandatangani MoU dengan Zafer Global Gida dari Turki untuk memasok kelapa parut kering rendah lemak senilai US$1 juta, dengan pengiriman dijadwalkan mulai 2027.
  • Produk LFDC Sasa akan menggunakan kelapa pilihan dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, sebagai pemanfaatan bahan baku lokal untuk memenuhi pasar ekspor Turki.
  • Peluang ekspor didukung posisi Indonesia sebagai eksportir kelapa kering terbesar kedua dunia dan impor kelapa parut kering Turki yang rata-rata mencapai 17.000 ton per tahun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – PT Sasa Inti menjalin kemitraan perdagangan dengan perusahaan asal Turki, Zafer Global Gida San. Dış Tic. Ltd. Şti., untuk memasok produk kelapa parut kering rendah lemak (Low-Fat Desiccated Coconut/LFDC) senilai US$1 juta. Mengutip keterangann resmi, Kamis (15/10), MoU kerja sama Sasa Inti dan Zafer Global Gida ditandatangani dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 di ICE BSD City, dengan disaksikan Menteri Perdagangan Budi Santoso. Adapun pasokan kelapa parut kering rendah lemak ke Turki dijadwalkan mulai pada 2027.

Marketing Director PT Sasa Inti Agus Nugraha mengatakan, kemitraan tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap kapabilitas perusahaan dalam industri pangan. Sasa akan memasok LFDC yang diproduksi menggunakan kelapa pilihan dari Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

“Ini merupakan wujud pemanfaatan potensi kelapa lokal Indonesia untuk menghasilkan produk berkualitas. Ke depan, kami berharap kemitraan ini dapat membuka peluang lebih luas di pasar internasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri kelapa Indonesia," ujarnya.

Potensi perdagangan kelapa olahan menjadi salah satu faktor yang mendukung ekspansi tersebut. Berdasarkan laporan Outlook Komoditas Kelapa 2025 dari Kementerian Pertanian, Indonesia menempati posisi kedua sebagai eksportir kelapa kering terbesar dunia pada periode 2019–2023, dengan pangsa pasar 24,90 persen. Pada 2023, volume ekspor Indonesia bahkan melampaui Filipina, yang sebelumnya memimpin selama enam tahun berturut-turut.

Di sisi lain, Turki merupakan salah satu importir utama kelapa parut kering dengan rata-rata volume impor mencapai 17.000 ton per tahun. Kondisi ini menjadi peluang bagi produsen Indonesia untuk memperluas akses pasar di negara tersebut.

Sales and Purchasing Director Zafer Global Gida, Veysel Cüneyt Özlen, menyambut kerja sama tersebut sebagai langkah awal membangun hubungan dagang jangka panjang antara kedua perusahaan.

"Kemitraan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat hubungan perdagangan antara Turki dan Indonesia. Kami optimistis bahwa pelaksanaan kerja sama yang dimulai pada 2027 mendatang dapat memberikan hasil positif bagi kedua perusahaan," katanya.

Saat ini, Sasa telah mengekspor produknya ke berbagai kawasan, mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Asia Timur hingga Australia, Afrika, serta Amerika Serikat. Kemitraan dengan perusahaan Turki tersebut menambah jangkauan perdagangan internasional Sasa, khususnya untuk produk olahan kelapa.

Perusahaan juga mengandalkan penerapan standar mutu dan keamanan pangan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Sistem yang diterapkan mencakup FSSC 22000 V6, ISO 22000, ISO 9001, HACCP, serta sertifikasi halal dari BPJPH.

Melalui kerja sama senilai US$1 juta ini, Sasa berupaya memperkuat posisi produk olahan kelapa Indonesia dalam rantai perdagangan internasional. Selain memperluas pasar, kemitraan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal dan menciptakan nilai tambah bagi industri kelapa nasional.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More