Comscore Tracker
BUSINESS

Penuhi Kebutuhan Pelanggan, Smartfren Perkuat Transformasi Digital

Kehadiran 5G akan mendukung percepatan transformasi digital

Penuhi Kebutuhan Pelanggan, Smartfren Perkuat Transformasi DigitalShutterstock/Mongta Studio

by Anastasia Desire

Jakarta, FORTUNE - Teknologi 5G yang saat ini semakin masif diperbincangkan dan mulai dirasakan kehadirannya, diyakini akan mendorong dan mempercepat  hadirnya pola hidup cerdas berbasis digital (smart digital life) di Indonesia. Hal ini karena infrastruktur jaringan 5G membuka jalan selebar-lebarnya bagi arus data dengan kapasitas yang hampir tanpa batas, serta dengan kecepatan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Volume data yang semakin besar dan cepat akan menjadi basis terciptanya mahadata (Big Data) yang akan mampu menopang sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada setiap aktivitas hidup cerdas berbasis digital.

Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, mengatakan kehadiran 5G secara umum akan mendukung percepatan transformasi digital. 5G akan membuat laju pengiriman, penerimaan, serta pertukaran data menjadi lebih masif dibandingkan dengan 4G sehingga mahadata atau big data akan tercipta. Data-data inilah yang kemudian dianalisis dan menghadirkan sistem berbasis AI.

Karena itulah sejumlah operator seluler sudah mulai menggelar 5G di Indonesia, dan seiring berjalannya waktu akan terus bertambah. Kali ini, salah satunya adalah perusahaan di bawah Grup Sinarmas—PT. Smartfren Telecom Tbk (FREN)—yang menegaskan segera menghadirkan layanan 5G ke masyarakat.

Smartfren telah melaksanakan ULO dan telah mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO)

VP Network Operations Smartfren, Agus Rohmat, mengatakan bahwa Smartfren telah dinyatakan lulus melaksanakan Uji Laik Operasi (ULO) layanan 5G oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Surat Keterangan Laik Operasi (SKLO) layanan 5G juga telah diterima oleh Smartfren. Artinya Smartfren telah dinyatakan layak untuk menggelar layanan 5G secara komersial untuk masyarakat dengan berbagai use cases.

"Kami sudah dinyatakan lulus ULO oleh Kementerian Kominfo. Jaringan Smartfren sudah siap untuk mulai melayani 5G, hanya di beberapa titik mungkin masih diperlukan pengembangan lebih lanjut dengan beberapa site 5G tambahan. Kami rencanakan di area BSD dan beberapa area lain yang dipilih, tahun ini bisa launching layanan 5G," terangnya.  

Agus juga menjelaskan gelaran 5G ini akan dilakukan di frekuensi 2,3 GHz. Menurutnya, 5G akan digelar dalam berbagai use cases, tapi yang akan menjadi prioritas utama adalah untuk mendukung destinasi wisata super prioritas, pemerintahan digital (e-government), dan smart manufacture.

"Sinarmas kan memiliki banyak manufacturing industry, seperti pabrik CPO, biodiesel dan lain-lain. Smartfren antara lain akan fokus di industri manufaktur tersebut. Untuk use case yang applicable, akan dilihat case by case. Kalau ada kebutuhan di situ, akan kami gulirkan," tuturnya.

Lebih lanjut, Agus memaparkan  use case 5G yang digelar Smartfren juga memanfaatkan perkembangan internet of things (IoT) misalnya dalam mendukung bisnis UMKM, sektor industri, hingga manufaktur. Inilah antara lain keunggulan Smartfren sebagai anak usaha Sinarmas, yang bisa langsung memanfaatkan jaringan 5G nya untuk mendorong otomatisasi manufaktur di pabrik-pabrik Sinarmas.

Hadirkan 5G untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan, bisnis, dan lainnya

Chief Brand Officer Smartfren, Roberto Saputra, juga mengatakan bahwa dalam pengembangan teknologi komunikasi generasi kelima (5G) tersebut, Smartfren sedang mempertimbangkan untuk menghadirkan produk CPE Mifi yang memiliki kapasitas 5G.

Konsep tersebut, tambah Roberto, memungkinkan pengguna bisa menghadirkan layanan data berkecepatan tinggi di area aktivitasnya, yang tidak terjangkau oleh layanan fix broadband berbasis kabel, baik itu untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan, bisnis, maupun lainnya.

Menurutnya, use case ini juga lebih dipilih Smartfren karena penggunaan layanan 4G untuk smartphone dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan mengakses berbagai layanan digital saat ini.

“Kalau untuk pengguna smartphone yang mau YouTube atau streaming, 4G sudah cukup. Karena kecepatan yang tinggi, penggunaan layanan 5G di ponsel akan lebih cepat menghabiskan kuota data. Nanti konsumen komplain, kok mahal dan kuotanya cepat habis. Jadi, ketika kami perkenalkan 5G memang tidak ingin basa-basi,” kata Roberto.

Smartfren Perkuat Data Center dan Jaringan Fiber Optik

Sementara itu, Presiden Direktur Smartfren Telecom, Merza Fachys, menjelaskan meledaknya volume data dan kebutuhan kecepatan yang tinggi dalam memproses data yang besar tersebut, telah memicu meningkatnya kebutuhan data center, serta kebutuhan jaringan penghubung fiber optik sebagai media transport pertukaran data. 

Melihat hal ini, Smartfren sejak awal sudah memfokuskan strategi pada peningkatan jaringan data dan mulai membangun Data Center. Namun, sangat disadari bahwa pembangunan tersebut akan memakan waktu yang sangat lama bila dilaksanakan sendiri oleh Smartfren

Oleh karena itu, untuk penguatan Data Center dan pengembangan jaringan fiber optik, Smartfren mengakuisisi 20,5 persen kepemilikan di PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo). Menurut Merza, Moratelindo merupakan salah satu perusahaan penyelenggara jaringan fiber optik terkemuka dan perusahaan penyedia Data Center di Indonesia. Moratelindo memiliki 48,51 ribu km jaringan fiber optik yang melayani lebih dari 5 ribu pelanggan enterprises. Moratelindo saat ini juga mengoperasikan 6 Data Center di beberapa kota di Indonesia.

“Dengan diselenggarakannya layanan 5G, maka kualitas konektivitas antar kota serta antar perangkat jaringan adalah merupakan kunci utama. Kapasitas Moratelindo dalam mengelola fiber optik menjadi nilai tambah bagi Smartfren dalam menguasai teknologi jaringan,” jelas Merza.

Lebih lanjut, selain meningkatkan kepemilikan di Moratelindo, Smartfren juga menjalin kerja sama dengan perusahaan artificial intelligence dan cloud computing dari Abu Dhabi, Group 42 (G42) dan mitra lokal, PT Amara Padma Sehati (APS). Kerja sama ini dilakukan untuk membangun Data Center berkapasitas 1.000 megawatt di Indonesia.

Pada tahap pertama, kedua belah pihak akan mengembangkan data center berkapasitas 100-200 megawatt. Pembangunan akan dilakukan di beberapa lokasi, seperti Kota Delta Mas dan Ibu Kota Negara (IKN) baru yang berada di Kalimantan Timur. (WEB)

Related Articles