Jakarta, FORTUNE - Selama hampir empat dekade, merek sepatu olahraga Eagle menjadi bagian dari perjalanan industri sepatu Indonesia. Dari sepatu sekolah yang akrab di era 1980–1990-an hingga transformasi di tengah kompetisi global, kisah Eagle adalah cerita tentang ketahanan merek lokal yang terus mencari jalan untuk tetap relevan.
Pada masa kejayaannya, sepatu Eagle memenuhi rak toko sepatu dari kota besar hingga daerah. Warna hitamnya menjadi pilihan utama sepatu sekolah setiap tahun ajaran baru. Di tengah aroma buku tulis dan seragam baru, sepatu Eagle hadir sebagai bagian dari harapan orang tua kepada anak-anak mereka.
Lebih dari sekadar sepatu sekolah, Eagle juga digunakan oleh atlet badminton, pelari, hingga penggemar olahraga yang mencari produk berkualitas dengan harga terjangkau. Kehadirannya menjadikan Eagle sebagai salah satu pemantik pertumbuhan industri sepatu olahraga nasional. Namun perjalanan merek ini tidak selalu mulus.
Eagle pertama kali diperkenalkan pada 1986 di bawah PT Garuda Indawa, anak perusahaan Korindo Group. Saat itu, Korindo dikenal sebagai konglomerasi besar yang bergerak di sektor kehutanan, namun perusahaan ingin berkontribusi lebih besar terhadap industri manufaktur di Indonesia.
“Eagle semula berada di bawah naungan PT Garuda Indawa—anak usaha Korindo Group yang didirikan Seung Eun-ho,” ujar Presiden Direktur PT GF Indonesia, You Jong Min kepada Fortune Indonesia (17/4).
PT Garuda Indawa sendiri memulai bisnis pada 1985 dengan investasi awal sebesar US$67 juta melalui kerja sama dengan perusahaan multinasional Kostra Corporation dari Korea Selatan. Nama Eagle dipilih bukan tanpa makna. Elang dianggap sebagai simbol kekuatan dan ketajaman visi. “Kami ingin merek ini punya kekuatan seperti burung elang—simbol ketajaman visi dan kekuatan mencengkeram, diam-diam menyusuri langit pasar, tapi kuat, berani, dan tak mudah tumbang,” ujar You.
Produksi sepatu Eagle pada masa awal dilakukan di pabrik Tangerang, Jawa Barat. Pada tahun-tahun awal, pertumbuhan Eagle berlangsung cepat. Sepatu ini menjadi favorit anak sekolah dan atlet amatir. Bahkan, produknya sempat muncul di sinetron televisi dan katalog toko olahraga. Namun memasuki awal 2000-an, situasi berubah. Pasar lokal mulai dibanjiri merek internasional dengan promosi besar dan citra global yang kuat.
Logo swoosh dan tiga garis menjadi simbol baru bagi generasi muda. Di saat yang sama, PT Garuda Indawa kehilangan fokus bisnis. Pabrik yang menua, strategi pemasaran yang stagnan, dan harga yang semakin tidak kompetitif membuat posisi Eagle melemah.
Kondisi tersebut menarik perhatian C. K. Song, pendiri sekaligus CEO KMK Group. Pada 2005, Song menemui Seung Eun-ho untuk menyampaikan niat mengakuisisi merek tersebut. “Waktu itu Eagle sudah tidak terlalu diurus. Mr. Song bilang ke Mr. Seung ‘Saya mau dong beli brand kamu, Eagle.’ Dia melihat potensi di balik merek yang hampir mati,” kata You.
Setelah akuisisi, Eagle menjalani rebranding besar pada 2006. Logo diperbarui, strategi pemasaran disusun ulang, dan lini produk ditata kembali. Sejak awal, perusahaan memutuskan untuk fokus pada kategori running. “Sejak awal kami sudah tahu arah Eagle: running,” ujar You. “Karena semua olahraga, pada dasarnya dimulai dari lari. Base of all sport is running.”
Keputusan tersebut menjadi langkah strategis. Dengan dukungan jaringan manufaktur KMK Group yang berpengalaman memproduksi sepatu untuk berbagai merek global, Eagle mulai memperkuat kembali posisinya. Produksi kemudian dipindahkan ke Jawa Tengah.
