Jakarta, FORTUNE - Setelah hampir empat dekade berkiprah di industri sepatu olahraga Indonesia, merek Eagle kini memasuki fase baru. Di tengah perubahan tren konsumen dan kompetisi global yang semakin ketat, perusahaan memperkuat strategi merek untuk menjangkau generasi muda sekaligus menegaskan posisinya sebagai brand lokal yang terus berinovasi.
Presiden Direktur PT GF Indonesia, You Jong Min, menyadari bahwa nostalgia masa lalu tidak cukup untuk memenangkan pasar masa kini. Generasi Y dan Z, menurutnya, tidak hanya mencari sepatu yang fungsional. Mereka juga mencari cerita, nilai, dan identitas yang melekat pada sebuah produk. “Kami ingin menyasar target pasar baru, yakni Gen Y dan Gen Z, yang kini merupakan kue yang sangat besar,” ujarnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Eagle meluncurkan rebranding dengan semangat Empowering Individual. Konsep ini bukan sekadar slogan pemasaran, tetapi filosofi yang diterjemahkan dalam desain produk hingga pendekatan brand.
“Generasi sekarang, bahkan kita pun, merasa alas kaki itu bukan cuma pelindung kaki. Itu bagian dari gaya hidup. Sepatu bisa membuat orang percaya diri,” kata You.
Bagi Eagle, filosofi ini tidak berarti menciptakan produk mahal. “Empowering Individual, bagi Eagle, bukan berarti menghadirkan produk mewah. Justru sebaliknya, membuat teknologi yang bisa diakses siapa saja,” ujarnya.
“Murah bukan berarti murahan. Itu yang ingin kami tekankan," katanya, menambahkan. Untuk mendukung strategi tersebut, Eagle mengembangkan teknologi bantalan bernama LEAP. Sistem cushioning ini dirancang untuk memberikan keseimbangan antara kenyamanan dan daya pantul.
Teknologi tersebut diperkenalkan dalam dua produk performance running yang dirilis pada 2025, yaitu Threshold, sepatu racing dengan pelat karbon, serta Alpha-ST, sepatu training dengan pelat nilon
Keduanya dijual dengan harga sekitar Rp800.000, sedikit lebih rendah dibandingkan sepatu lokal sejenis yang sudah berada di kisaran Rp900.000 hingga Rp1 juta. “Produk ini kami kembangkan melalui riset di Jepang dan Korea Selatan,” ujar You. Perusahaan optimistis penjualan dapat mencapai 100.000 pasang per bulan untuk seluruh lini produk.
Dalam mengembangkan produk, tim desain Eagle rutin melakukan riset ke berbagai negara. Setiap tahun, tim melakukan perjalanan ke Korea Selatan, Jepang, dan Cina untuk mempelajari bahan baru, teknik produksi, serta tren desain terbaru. “Sepatunya mungkin kelihatan sama di luar, tapi di dalam kami upgrade. Spons, sol, teknik lem, dan stitching kami perbarui,” kata You.
Namun proses ini tidak lepas dari tantangan. Sekitar 50 persen bahan baku masih diimpor dari Cina, yang sering menyebabkan keterlambatan produksi. “Kadang bahan datang terlambat, rilis produk jadi mundur,” ujarnya.
