Jakarta, FORTUNE - Indonesia tengah memasuki babak penting dalam pengembangan industri berbasis mineral. Kekayaan nikel, timah, bauksit, tembaga, dan emas menempatkan Indonesia pada posisi strategis di tengah kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk menopang transisi energi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan momentum tersebut makin terbuka ketika Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada mencari mitra mengamankan pasokan mineral kritis.
Ketergantungan dunia terhadap Cina yang menguasai hampir 90 persen mineral kritis, menurut dia, membuka ruang bagi Indonesia mengambil peran lebih besar.
“Inilah golden moment sebetulnya buat Indonesia,” kata Airlangga dalam acara bertajuk Seminar Nasional Green Economy 2045, Selasa (29/9).
Momentum itu tengah coba diterjemahkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melalui ekspansi ke tiga wilayah. Selama puluhan tahun, perusahaan bertumpu pada tambang dan fasilitas pengolahan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan. Kini, Vale memperluas operasinya ke Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.
Langkah tersebut bukan sekadar memperluas wilayah tambang. Vale membangun tiga pusat produksi sekaligus fasilitas pengolahan di masing-masing wilayah.
Melalui Indonesia Growth Project (IGP), perusahaan menggelontorkan investasi US$7,2 miliar, terdiri atas US$1,9 miliar untuk Morowali, US$3,2 miliar di Pomalaa, dan US$2,1 miliar di Sorowako.
Investasi itu mencakup pengembangan tambang dan fasilitas pengolahan berteknologi high pressure acid leach (HPAL).
Dari ketiga proyek tersebut, Pomalaa menjadi yang paling maju. Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan pembangunan fasilitas HPAL di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 95 persen.
“Diproyeksikan kami bisa menyelesaikan dan melakukan mechanical completion dan kemudian dilanjutkan dengan commissioning itu di bulan September tahun 2026,” kata Bernardus dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9).
Tambangnya juga mulai beroperasi sejak triwulan pertama 2026. Untuk mengembangkan fasilitas pengolahan tersebut, Vale menggandeng Huayou dari Cina dan Ford Motor dari Amerika Serikat.
Di Morowali, pembangunan HPAL telah mencapai sekitar 41 persen. Proyek tersebut dikembangkan bersama GEM Co., Ltd. dari Cina dan EcoPro dari Korea Selatan.
Sementara itu, IGP Sorowako disiapkan dengan investasi US$2,1 miliar. Vale menggandeng Huayou guna membangun fasilitas HPAL yang akan mengolah limonit dari tambang yang telah beroperasi. Berbeda dari IGP Pomalaa, proyek Sorowako masih berada pada tahap awal.
Menurut Bernardus, kemitraan tersebut bukan hanya soal modal dan teknologi. Keterlibatan perusahaan dari sejumlah negara juga memiliki dimensi strategis di tengah persaingan global memperebutkan mineral kritis.
“Tak hanya nilai lebih daripada investasi, tetapi juga menjaga geopolitik,” kata dia.
Di balik ekspansi tersebut, perubahan lain yang tak kalah penting adalah cara Vale memanfaatkan bijih nikel. Salah satunya limonit, bijih berkadar rendah yang sebelumnya belum menjadi sumber nilai ekonomi utama perusahaan. Kini, material tersebut justru menjadi bagian penting dari rencana hilirisasi.
