Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 Tiga Tambang, Tiga Pusat Hilirisasi
Kegiatan operasional PT Vale di IGP Morowali (dok. PT Vale)
  • Indonesia melihat peluang besar menjadi pemasok mineral kritis saat negara Barat mencari alternatif dari dominasi Cina; PT Vale merespons melalui ekspansi hilirisasi nikel di Sorowako, Pomalaa, dan Morowali.
  • Vale menginvestasikan US$7,2 miliar untuk tambang dan fasilitas HPAL yang mengolah limonit menjadi MHP, bahan antara menuju material baterai; proyek Pomalaa telah mencapai pembangunan sekitar 95 persen.
  • Hilirisasi mengubah ekonomi Morowali menjadi didominasi industri pengolahan, tetapi peningkatan pengeluaran warga sekitar 2 persen; UMKM lokal dan tenaga kerja setempat masih perlu diperkuat agar manfaatnya lebih merata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa (29/9)

Airlangga Hartarto menyebut momentum pengembangan industri mineral sebagai golden moment bagi Indonesia dalam Seminar Nasional Green Economy 2045.

Senin (14/9)

Mateus Sigit Harisulistya menjelaskan bahwa MHP menjadi intermediate product untuk produk downstream hingga material baterai dalam diskusi di Jakarta.

Selasa (15/9)

Bernardus Irmanto menyampaikan pembangunan fasilitas HPAL di Pomalaa telah mencapai sekitar 95 persen. Penyelesaian dan commissioning diproyeksikan pada September 2026.

triwulan pertama 2026

Tambang Pomalaa mulai beroperasi.

September 2026

Fasilitas HPAL Pomalaa diproyeksikan menyelesaikan mechanical completion dan dilanjutkan dengan commissioning.

kini

Vale memperluas operasinya ke Pomalaa dan Bahodopi di Morowali, selain mengembangkan tambang dan fasilitas pengolahan di Sorowako.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    PT Vale Indonesia mengembangkan tiga pusat produksi dan fasilitas HPAL untuk mengolah limonit menjadi MHP.
  • Who?
    PT Vale Indonesia Tbk, bersama sejumlah mitra dari Cina, Amerika Serikat, dan Korea Selatan, mengembangkan proyek tersebut.
  • Where?
    Proyek berada di Sorowako, Sulawesi Selatan, Pomalaa, Sulawesi Tenggara, serta Morowali, Sulawesi Tengah.
  • When?
    Tambang Pomalaa mulai beroperasi sejak triwulan pertama 2026, sementara penyelesaian dan commissioning fasilitasnya diproyeksikan pada September 2026.
  • Why?
    Pengembangan dilakukan untuk memperluas hilirisasi nikel dan menghasilkan material bernilai tambah yang dapat diproses menuju material baterai.
  • How?
    Vale menginvestasikan sekitar US$7,2 miliar untuk tambang dan fasilitas HPAL di tiga wilayah, dengan kapasitas pengolahan limonit yang berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

PT Vale membuat tambang dan pabrik pengolahan nikel di tiga tempat, yaitu Pomalaa, Morowali, dan Sorowako. Mereka memakai teknologi HPAL untuk mengolah limonit menjadi MHP, bahan yang bisa dipakai untuk membuat material baterai. Pabrik Pomalaa paling maju, sedangkan proyek lainnya masih dikerjakan. Masyarakat lokal masih perlu disiapkan agar bisa ikut bekerja.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ekspansi PT Vale membuka pemanfaatan limonit yang sebelumnya belum menjadi sumber nilai ekonomi utama. Pengolahan melalui HPAL menciptakan mata rantai baru menuju material baterai, sementara investasi di tiga wilayah mendorong perubahan struktur ekonomi dan menambah peluang bagi penguatan UMKM serta tenaga kerja lokal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indonesia tengah memasuki babak penting dalam pengembangan industri berbasis mineral. Kekayaan nikel, timah, bauksit, tembaga, dan emas menempatkan Indonesia pada posisi strategis di tengah kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk menopang transisi energi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan momentum tersebut makin terbuka ketika Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada mencari mitra mengamankan pasokan mineral kritis.

Ketergantungan dunia terhadap Cina yang menguasai hampir 90 persen mineral kritis, menurut dia, membuka ruang bagi Indonesia mengambil peran lebih besar.

“Inilah golden moment sebetulnya buat Indonesia,” kata Airlangga dalam acara bertajuk Seminar Nasional Green Economy 2045, Selasa (29/9).

Momentum itu tengah coba diterjemahkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melalui ekspansi ke tiga wilayah. Selama puluhan tahun, perusahaan bertumpu pada tambang dan fasilitas pengolahan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan. Kini, Vale memperluas operasinya ke Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Bahodopi di Morowali, Sulawesi Tengah.

Langkah tersebut bukan sekadar memperluas wilayah tambang. Vale membangun tiga pusat produksi sekaligus fasilitas pengolahan di masing-masing wilayah.

Melalui Indonesia Growth Project (IGP), perusahaan menggelontorkan investasi US$7,2 miliar, terdiri atas US$1,9 miliar untuk Morowali, US$3,2 miliar di Pomalaa, dan US$2,1 miliar di Sorowako.

Investasi itu mencakup pengembangan tambang dan fasilitas pengolahan berteknologi high pressure acid leach (HPAL).

Dari ketiga proyek tersebut, Pomalaa menjadi yang paling maju. Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk, Bernardus Irmanto, mengatakan pembangunan fasilitas HPAL di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 95 persen.

“Diproyeksikan kami bisa menyelesaikan dan melakukan mechanical completion dan kemudian dilanjutkan dengan commissioning itu di bulan September tahun 2026,” kata Bernardus dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9).

Tambangnya juga mulai beroperasi sejak triwulan pertama 2026. Untuk mengembangkan fasilitas pengolahan tersebut, Vale menggandeng Huayou dari Cina dan Ford Motor dari Amerika Serikat.

Di Morowali, pembangunan HPAL telah mencapai sekitar 41 persen. Proyek tersebut dikembangkan bersama GEM Co., Ltd. dari Cina dan EcoPro dari Korea Selatan.

Sementara itu, IGP Sorowako disiapkan dengan investasi US$2,1 miliar. Vale menggandeng Huayou guna membangun fasilitas HPAL yang akan mengolah limonit dari tambang yang telah beroperasi. Berbeda dari IGP Pomalaa, proyek Sorowako masih berada pada tahap awal.

Menurut Bernardus, kemitraan tersebut bukan hanya soal modal dan teknologi. Keterlibatan perusahaan dari sejumlah negara juga memiliki dimensi strategis di tengah persaingan global memperebutkan mineral kritis.

“Tak hanya nilai lebih daripada investasi, tetapi juga menjaga geopolitik,” kata dia.

Di balik ekspansi tersebut, perubahan lain yang tak kalah penting adalah cara Vale memanfaatkan bijih nikel. Salah satunya limonit, bijih berkadar rendah yang sebelumnya belum menjadi sumber nilai ekonomi utama perusahaan. Kini, material tersebut justru menjadi bagian penting dari rencana hilirisasi.

Pemanfaatan teknologi HPAL

Pembangunan proyek smelter nikel berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. (dok. Vale Indonesia)

Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk, Mateus Sigit Harisulistya, mengatakan hilirisasi harus dipandang sebagai rangkaian kegiatan yang saling terhubung, mulai dari cadangan mineral, penambangan, pembangunan infrastruktur, hingga pengolahan.

Dalam skema tersebut, teknologi HPAL digunakan mengolah limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP).

“MHP ini yang nanti akan menjadi intermediate product untuk produk-produk downstream sampai dengan material baterai,” kata Mateus saat diskusi di Jakarta, Senin (14/9).

Jalan menuju baterai masih panjang. Setelah menjadi MHP, material tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi prekursor atau precursor cathode active material (pCAM), kemudian cathode active material (CAM), sebelum masuk ke tahap produksi material baterai.

Karena itu, HPAL bagi Vale bukanlah tujuan akhir, melainkan salah satu mata rantai penting membuka pengolahan nikel dengan nilai tambah lebih tinggi.

Perubahan itu sekaligus memberikan peran baru bagi limonit. Selama bertahun-tahun, pengolahan nikel Vale di Sorowako lebih banyak bertumpu pada saprolit yang diolah menjadi nickel matte.

Limonit dengan kadar lebih rendah belum menjadi sumber nilai ekonomi utama. Kehadiran HPAL mengubah kondisi tersebut: bijih yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini dapat diolah dan menjadi sumber pendapatan baru bagi perusahaan.

Skalanya pun tidak kecil. Morowali disiapkan dengan potensi produksi 10,4 juta ton limonit dan fasilitas HPAL berkapasitas sekitar 60.000 ton MHP per tahun.

Pomalaa memiliki potensi 21 juta ton limonit dengan kapasitas HPAL sekitar 120.000 ton MHP per tahun. Sementara itu, Sorowako diproyeksikan menghasilkan sekitar 11,5 juta ton limonit dengan fasilitas HPAL berkapasitas 60.000 ton MHP per tahun.

Namun, cerita hilirisasi tidak berhenti di tambang, pabrik, dan nilai investasi. Ketika modal dalam skala besar masuk, struktur ekonomi daerah ikut berubah. Sulawesi Tengah menjadi salah satu contoh paling nyata.

Dampak hilirisasi nikel pada perekonomian daerah

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal saat diskusi di acara Media MIND 2026 di Jakarta, Senin (14/9). (Dok. Istimewa)

Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan daerah yang sebelumnya bertumpu pada sektor primer seperti pertanian dan pertambangan kini makin didominasi industri pengolahan.

Di Morowali, dalam sekitar satu dekade porsi industri pengolahan telah mencapai lebih dari 75 persen. Perubahan serupa terjadi di Morowali Utara. Pertumbuhan ekonomi kedua daerah itu tinggi, dengan compound annual growth rate (CAGR) 2014-2024 masing-masing 23,2 persen di Morowali dan 21,8 persen di Morowali Utara.

“Struktur ekonomi daerah-daerah penghasil itu berubah sangat-sangat drastis dengan adanya investasi itu,” kata Faisal di Jakarta, Senin (14/9).

Meski demikian, angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menunjukkan seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat. Faisal mengingatkan PDRB per kapita juga mencakup investasi, aktivitas perusahaan, ekspor-impor, dan belanja pemerintah.

Karena itu, CORE melihat pengeluaran masyarakat per kapita sebagai indikator yang lebih dekat dengan kondisi rumah tangga. Di Morowali, pengeluaran per kapita hanya meningkat sekitar 2 persen. Di Morowali Utara, kenaikannya juga berada pada kisaran yang sama, meski pertumbuhan ekonomi kedua daerah tersebut tinggi.

Di sinilah pekerjaan rumah hilirisasi berikutnya muncul: memastikan nilai tambah yang tercipta tidak berhenti di kawasan industri. Salah satu jalurnya adalah memperluas keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok. CORE mencatat dari sekitar 5.600 UMKM di Morowali, baru sekitar 30 yang telah terintegrasi atau menjadi rekanan industri besar.

Menurut Faisal, persoalannya bukan karena industri besar tidak membutuhkan pemasok lokal, melainkan adanya kesenjangan kapasitas antara kebutuhan perusahaan dan kemampuan UMKM. Karena itu, menghubungkan keduanya tidak cukup dengan business matching. Pelaku usaha lokal perlu lebih dahulu diperkuat dari sisi kapasitas, kualitas produk, manajemen, hingga kemampuan memenuhi standar industri.

“Harus ada bridging-nya dulu. Harus ada peningkatan kapasitas,” kata Faisal.

Tantangan serupa terdapat pada tenaga kerja. Berdasarkan informasi yang diterimanya, Faisal memperkirakan pekerja lokal Morowali yang terserap di industri setempat masih sekitar 8–15 persen dari total tenaga kerja. Padahal kebutuhan industri terus bertambah.

Karena itu, penguatan kapasitas tenaga kerja menjadi penting agar masyarakat sekitar dapat mengambil bagian dalam kesempatan kerja yang tercipta. Pemerintah daerah, kata dia, mulai menyiapkan pendidikan vokasi dan politeknik untuk menghasilkan tenaga kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article