Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

3 Proyek HPAL Baru Vale Indonesia Rampung Bertahap hingga 2027

PHOTO-2025-09-02-10-40-37.jpeg
Wilayah kerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO). (dok. Vale Indonesia)
Intinya sih...
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memacu pembangunan 3 proyek smelter nikel HPAL di Sulawesi.
  • Proyek Pomalaa mencapai progres paling maju, ditargetkan selesai pada Agustus 2026.
  • Proyek Bahodopi dan Sorowako juga tengah dikerjakan dengan target selesai pada 2026 dan 2027.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memacu pembangunan tiga proyek smelter nikel berbasis high pressure acid leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara; Bahodopi, Sulawesi Tengah; dan Sorowako, Sulawesi Selatan.

Proyek-proyek tersebut ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2027 sebagai bagian dari strategi hilirisasi dan penguatan rantai pasok industri baterai kendaraan listrik.

Direktur Utama Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyatakan proyek dengan progres paling maju saat ini adalah Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.

Proyek ini mencakup tambang dan smelter HPAL yang dikembangkan bersama mitra asal Cina, Zhejiang Huayou Cobalt, serta perusahaan otomotif Amerika Serikat (AS), Ford Motor, dengan nilai investasi US$4,5 miliar.

“Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik HPAL sudah mencapai sekitar 50 persen, sementara pembangunan sektor tambang telah menyentuh 60 persen,” kata Bernardus dalam sesi rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR-RI yang disiarkan secara virtual, Senin (19/1).

Ia menjelaskan, dua unit autoclave telah tiba di lokasi proyek dan tiga unit lainnya akan menyusul. Dengan demikian, nantinya terdapat lima autoclave yang akan dipasang. Vale menargetkan mechanical completion smelter HPAL Pomalaa dapat dicapai pada Agustus 2026.

Pada tahap awal, smelter Pomalaa sudah dapat menerima pasokan bijih nikel pada Agustus 2026 dengan kebutuhan stockpile untuk operasionalisasi selama tiga bulan.

Smelter ini dirancang memiliki kapasitas produksi 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun, dengan pasokan bijih dari Blok Pomalaa yang mampu menghasilkan sekitar 21 juta ton nikel limonit dan 7 juta ton nikel saprolit per tahun.

“Agustus 2026 itu, dalam tanda kutip, sudah bisa melakukan mechanical completion dan mulai menerima bijih,” kata Bernardus.

Proyek kedua yang tengah dikebut adalah IGP Morowali di Bahodopi, Sulawesi Tengah. Proyek ini mencakup pengembangan tambang dan smelter HPAL, dengan menggandeng perusahaan Cina, GEM, serta perusahaan Korea Selatan, Ecopro.

Menurut Bernardus, smelter HPAL Bahodopi ditargetkan mencapai mechanical completion pada kuartal IV-2026, dengan catatan seluruh perizinan dapat diperoleh tepat waktu.

Smelter ini dirancang memiliki kapasitas produksi 66.000 ton MHP per tahun.

Kebutuhan bahan baku untuk smelter Bahodopi akan dipasok dari tambang yang mampu memproduksi sekitar 5,5 juta ton nikel saprolit dan 10,4 juta ton nikel limonit per tahun.

Sama seperti proyek Pomalaa, smelter ini juga memerlukan persediaan bijih nikel untuk kebutuhan tiga bulan pengoperasian.

Proyek ketiga adalah IGP Sorowako Limonite di Sulawesi Selatan yang mencakup tambang dan smelter HPAL. Proyek ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt, sementara calon mitra ketiga masih dalam tahap asesmen.

“Ini joint venture antara Vale dan Huayou, tetapi progresnya memang paling tertinggal dibandingkan Pomalaa dan Bahodopi,” ujar Bernardus.

Saat ini, progres pembangunan smelter HPAL Sorowako baru mencapai sekitar 17 persen. Smelter ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun, dengan kebutuhan pasokan sekitar 11,5 juta ton nikel limonit per tahun.

Vale menargetkan proyek ini baru dapat mulai beroperasi pada 2027.

Bernardus pun meminta dukungan Komisi XII DPR, khususnya terkait keberlanjutan pasokan bijih nikel untuk memastikan ketiga proyek smelter tersebut dapat beroperasi sesuai rencana.

“Diharapkan di Pomalaa pada Agustus 2026 paling tidak dua autoclave atau dua line sudah selesai, lalu secara bertahap Januari 2027 semuanya rampung. Bahodopi diperkirakan kuartal IV 2026 selesai, dan Sorowako diharapkan bisa berjalan pada 2027,” katanya.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Market

See More

Bakrie & Brothers (BNBR) Siap Rights Issue Masif Jelang RUPSLB

20 Jan 2026, 14:49 WIBMarket