Jakarta, FORTUNE - Hampir sembilan dekade berdiri, teh Tong Tji semakin lekat di benak konsumen dengan sejumlah ekspansi. Selaras dengan itu, Tatang Budiono, nakhoda PT Tong Tji Tea Indonesia, pun menyiapkan regenerasi dengan hati-hati.
Tatang sendiri mengambil alih kemudi Tong Tji saat masih berusia 19 tahun. Anak kedua dari empat bersaudara itu menggantikan sang ayah, yang mendadak terkena serangan jantung dan meninggal pada 1976. Tatang mengundurkan diri dari jurusan Arsitektur di Universitas Parahyangan, Bandung agar sekolah kedua adiknya tak terganggu.
“Praktis ketika Bapak Tjia Swan Liang wafat, maka sejak saat itu saya sebagai putra tertua memiliki kewajiban untuk meneruskan mimpi dan usaha dari papi dan para pendiri Tong Tji,” kata Tatang (23/9). “Pertama kali mengambil alih, tentu harus banyak belajar."
Toh, Tatang memang tak asing dengan usaha keluarganya. Sejak duduk di bangku SMP, Tatang terbiasa bangun sebelum fajar untuk membukakan pintu tempat pembuatan usaha teh keluarganya bagi para pekerja.
Di pagi hari, ia mengamati kiriman bunga melati, proses sortir daun teh, hingga pengemasannya. Pada sore hari, Tatang akan membantu ibunya, Tan Po Swan, menjaga toko batik. Di waktu lainnya, ia akan ikut berkeliling kebun teh. Sang Ayah juga kerap meminta bantuannya untuk mencatat penjualan dan mengelola keuangan usaha rumahan mereka.
Di awal kepemimpinannya, Tatang sempat merasa minder. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang bahkan tak lulus kuliah mampu menantang para raksasa? Apalagi, Tong Tji kala itu baru dikenal di Tegal, Pemalang, Tanjung, dan Losari. Pangsa pasarnya tak lebih dari 5 persen.
Tapi, Tatang melawan perasaan inferior dalam dirinya. Berbekal ilmu berdagang dari kedua orang tuanya, Tatang membenahi produksi dan distribusi. Untuk berpromosi, ia dengan berani membagikan Tong Tji secara gratis dari pasar ke pasar. “Agar orang-orang bisa merasakan Teh Tong Tji,” ujarnya.
