Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
20250921_173303.jpg
Salah satu outlet Tong Tji di mal. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)

Jakarta, FORTUNE - Hampir sembilan dekade berdiri, teh Tong Tji semakin lekat di benak konsumen dengan sejumlah ekspansi. Selaras dengan itu, Tatang Budiono, nakhoda PT Tong Tji Tea Indonesia, pun menyiapkan regenerasi dengan hati-hati.

Tatang sendiri mengambil alih kemudi Tong Tji saat masih berusia 19 tahun. Anak kedua dari empat bersaudara itu menggantikan sang ayah, yang mendadak terkena serangan jantung dan meninggal pada 1976. Tatang mengundurkan diri dari jurusan Arsitektur di Universitas Parahyangan, Bandung agar sekolah kedua adiknya tak terganggu.

“Praktis ketika Bapak Tjia Swan Liang wafat, maka sejak saat itu saya sebagai putra tertua memiliki kewajiban untuk meneruskan mimpi dan usaha dari papi dan para pendiri Tong Tji,” kata Tatang (23/9). “Pertama kali mengambil alih, tentu harus banyak belajar."

Toh, Tatang memang tak asing dengan usaha keluarganya. Sejak duduk di bangku SMP, Tatang terbiasa bangun sebelum fajar untuk membukakan pintu tempat pembuatan usaha teh keluarganya bagi para pekerja.

Di pagi hari, ia mengamati kiriman bunga melati, proses sortir daun teh, hingga pengemasannya. Pada sore hari, Tatang akan membantu ibunya, Tan Po Swan, menjaga toko batik. Di waktu lainnya, ia akan ikut berkeliling kebun teh. Sang Ayah juga kerap meminta bantuannya untuk mencatat penjualan dan mengelola keuangan usaha rumahan mereka.

Di awal kepemimpinannya, Tatang sempat merasa minder. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang bahkan tak lulus kuliah mampu menantang para raksasa? Apalagi, Tong Tji kala itu baru dikenal di Tegal, Pemalang, Tanjung, dan Losari. Pangsa pasarnya tak lebih dari 5 persen.

Tapi, Tatang melawan perasaan inferior dalam dirinya. Berbekal ilmu berdagang dari kedua orang tuanya, Tatang membenahi produksi dan distribusi. Untuk berpromosi, ia dengan berani membagikan Tong Tji secara gratis dari pasar ke pasar. “Agar orang-orang bisa merasakan Teh Tong Tji,” ujarnya.

Ekspansi dan regenerasi Tong Tji

Tatang Budiono (kanan), Direktur Utama PT Tong Tji Tea. (Dok. Tong Tji)

Bagaimana rencana ekspansi bisnis F&B Tong Tji Group ke depan? Business Development PT Cahaya Tirta Rasa, Ruschka Trisnadi, mengatakan, perusahaan menargetkan membuka 20 Tea House pada 2025. Dua di antaranya berlokasi di Bandung dan Madiun. Strategi ekspansi Tong Tji Tea House juga mencakup riset terhadap kompetitor.

Cahaya Tirta Rasa adalah anak usaha yang menaungi bisnis F&B Tong Tji Group, yang mencakup gerai restoran tea house new, tea house nasional, tea house lama, juga tea point.

Secara akumulatif, Tong Tji Group telah membuka lebih dari 150 gerai per September 2025. Itu mencakup Tong Tji Point dan Tong Tji Tea House, dengan mayoritas lokasi di dalam mal. Selain di mal, perusahaan juga sudah menjangkau rumah sakit, stasiun, dan rest area. “Menyusul di bandara,” kata Ruschka (23/9).

Seluruh ekspansi Tong Tji Group dilakukan secara organik. Langsung di bawah manajemen tim internal. Tak pernah ada skema waralaba. “Pertimbangannya, karena standardisasi akan lebih mudah apabila dikelola oleh sendiri. Karena sudah ada pakemnya, yakni SOP (standar operasional prosedur), dan berkala melakukan audit, serta terbukti efektif,” kata Tatang.

Di luar ekspansi, Tatang, sama seperti orang tuanya, juga menyertakan empat anaknya dalam operasionalisasi perusahaan. Anak sulung Tatang, Thomas Tjahajanto, mengatakan bahwa ayahnya mengenalkan Tong Tji dengan bahasa sederhana. Sejak belia, ia dibiasakan mengamati pekerja menimbang melati, membungkus teh, hingga diwarisi filosofi Tong Tji.

Sebagai penerus, beratkah pundak Thomas? “Saya menempatkannya bukan sebagai beban tetapi sebagai sebuah tanggung jawab dan tantangan,” kata Thomas (23/9). “Karena bagaimanapun juga, Tong Tji adalah mimpi besar dari pendiri dan dilanjutkan oleh Pak Tatang dan menjadi tanggung jawab saya, agar Tong Tji menjadi tetap eksis di Indonesia maupun lingkup internasional dan kita mulai merambah ke industri F&B.”

Editorial Team