Aturan OJK Soal Unit Link Buat Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 12,7%

Inflasi biaya medis jadi faktor peningkatan klaim asuransi.

Aturan OJK Soal Unit Link Buat Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 12,7%
Ilustrasi Asuransi Jiwa/Shutterstock
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan kinerja 56 Perusahaan Asuransi Jiwa pada kuartal I-2023 yang membukukan total pendapatan sebesar Rp54,36 triliun. Kinerja tersebut masih tercatat menurun 12,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 yang mencapai Rp62,27 triliun. 

Ketua Dewan Pengurus AAJI, Budi Tampubolon menjelaskan, aturan yang tertuang dalam Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) tentang Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) sedikit banyak mengganggu kinerja asuransi jiwa. Sebagaimana diketahui bahwa pada 14 Maret 2023 lalu, SEOJK PAYDI atau unit link telah berlaku secara penuh. 

"Banyak anggota AAJI yang menahan penjualan dan melakukan adaptasi terhadap perubahan tersebut," jelas Budi saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/5). 

Ia berharap, seiring dengan berjalannya waktu, adaptasi yang dilakukan industri akan memperkuat perlindungan kepada pemegang polis dan memberikan hasil yang positif bagi pertumbuhan kinerja asuransi jiwa.

Klaim asuransi jiwa tumbuh 5,1%

Jajaran Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) saat Konferensi Pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa

Sementara itu, total klaim yang telah dibayarkan industri asuransi jiwa mencapai Rp45,56 triliun hingga Maret 2023. Jumlah ini meningkat 5,1 persen jika dibandingkan dengan pembayaran klaim Maret 2022 

Ketua Bidang Kanal Distribusi dan Inklusi Tenaga Pemasar AAJI, Elin Waty menyampaikan bahwa pembayaran klaim yang senantiasa meningkat membuktikan bahwa industri ini adalah industri yang likuid. Dengan demikian, industri mampu menunaikan kewajibannya kepada para pemegang polis atau penerima manfaat. 

"Sebanyak 3,82 juta pemegang polis dan penerima manfaat telah merasakan manfaat asuransi jiwa. Kami di industri berupaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada nasabah dengan membayarkan klaim sesuai dengan ketentuan polis yang berlaku,” jelas Elin. 

Di sisi lain, sampai dengan 31 Maret 2023, industri asuransi jiwa mencatatkan jumlah tertanggung sebanyak 87,54 juta orang. Angka tersebut terdiri dari 29,74 juta tertanggung perorangan dan 57,80 juta tertanggung kumpulan.

Inflasi biaya medis jadi faktor peningkatan klaim asuransi

ilustrasi rumah sakit (unsplash.com/Adhy Savala)

Elin juga menambahkan, sejak pertengahan tahun 2022 klaim kesehatan menjadi salah satu komponen klaim yang meningkat pesat. Tercatat pada periode kuartal I 2023 ini klaim kesehatan mengalami peningkatan sebesar 38,6 persen. 

"Inflasi biaya medis yang cukup tinggi menjadi indikasi atas tingginya pertumbuhan klaim tersebut," kata Elin. 

Ia menilai, pasca pandemi Covid-19 biaya perawatan kesehatan saat ini meningkat tajam. Oleh karenanya, AAJI berpesan kepada seluruh pemegang polis untuk secara berkala melakukan review atas perlindungan yang dimilikinya agar tetap sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan data sampai dengan Maret 2023, industri asuransi jiwa membukukan total aset mencapai Rp611,52 triliun. Hasil tersebut mengalami penurunan sebesar 0,9 persen jika dibandingkan dengan total aset pada Maret 2022.

Magazine

SEE MORE>
Chronicle of Greatness
Edisi April 2024
[Dis] Advantages As First Movers
Edisi Maret 2024
Fortune Indonesia 40 Under 40
Edisi Februari 2024
Investor's Guide 2024
Edisi Januari 2024
Change the World 2023
Edisi Desember 2023
Back for More
Edisi November 2023
Businessperson of the Year 2023
Edisi Oktober 2023
Rethinking Wellness
Edisi September 2023

Most Popular

Ekspor Nonmigas April 2024: Logam Mulia Turun, Nikel Naik
Ini Tips Kelola Keuangan Untuk Pasturi yang LDR Antar Negara
Dibayangi Risiko Geopolitik,Ekonomi RI Diprediksi Tumbuh 5,06% di 2024
Gandeng Spotify, Boss Creator & Podkemas Asia Hadirkan PODFEST 2024
Riset East Ventures: Kesenjangan Digital RI Turun Meski Spread Naik
Impor Barang Konsumsi Januari-April 2024 Melesat 12,55%, Ini Pemicunya