Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Biaya Layanan Penitipan Anak di AS Makin Tidak Masuk Akal
Mainan bayi (pexels.com/ Polina Tankilevitch)
  • Biaya penitipan anak di AS melonjak tajam akibat kenaikan asuransi, sewa, dan operasional.

  • Penyedia layanan menghadapi dilema antara menanggung beban biaya sendiri atau menaikkan tarif.

  • Studi menunjukkan rata-rata keluarga harus berpenghasilan jauh di atas pendapatan nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Amerika, tempat jaga anak jadi makin mahal sekali. Banyak orang tua susah bayar karena uangnya tidak cukup. Tempat jaganya juga bingung, soalnya biaya sewa, asuransi, dan makanan naik terus. Ada yang kerja tanpa dibayar supaya tetap buka. Sekarang banyak keluarga sedih karena harus pilih antara kerja atau jaga anak sendiri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Biaya layanan penitipan anak di Amerika Serikat kian melonjak hingga dinilai tidak lagi masuk akal bagi banyak keluarga. Lonjakan biaya operasional yang dialami penyedia layanan membuat tarif penitipan anak terus naik, sementara kemampuan finansial orang tua justru semakin tertekan.

Survei terbaru dari National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menunjukkan krisis keterjangkauan yang melanda konsumen juga menghantam sektor penitipan anak. Penyedia layanan menghadapi kenaikan berbagai biaya, mulai dari asuransi, sewa properti, hingga kebutuhan operasional sehari-hari.

Menurut warta Fortune, Senin (9/3), 68 persen penyedia layanan melaporkan premi asuransi tanggung jawab meningkat pada 2025, naik dari 46 persen pada 2024. Selain itu, 66 persen responden menyebut biaya asuransi properti juga naik, dibandingkan 45 persen pada tahun sebelumnya.

Tidak hanya itu, sekitar 44 persen penyedia penitipan anak mengaku biaya sewa atau kontrak tempat usaha meningkat—lebih tinggi dibandingkan 32 persen pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka juga menghadapi tekanan kenaikan upah pekerja serta biaya makanan, perlengkapan, dan pemeliharaan fasilitas.

Dalam laporannya, NAEYC menyebut kondisi ini memaksa penyedia layanan mengambil keputusan sulit. Tanpa dukungan pendanaan publik yang memadai, mereka harus memilih antara menanggung kenaikan biaya sendiri—yang berisiko pada kelangsungan usaha—atau membebankannya kepada keluarga dalam bentuk kenaikan tarif penitipan anak.

“Ketika biaya-biaya ini meningkat tanpa adanya peningkatan pendanaan publik untuk menutup kesenjangan, program-program dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit,” demikian bunyi laporan tersebut.

Sebagian besar penyedia akhirnya menaikkan biaya untuk menutup kenaikan pengeluaran. Survei menunjukkan 65 persen pusat penitipan anak dan 51 persen program berbasis sekolah negeri telah menaikkan biaya pendidikan. Sementara itu, hanya 31 persen penyedia penitipan anak berbasis rumah yang melakukan hal serupa.

Namun, masalahnya, keluarga juga tengah menghadapi lonjakan biaya hidup lainnya seperti perumahan, premi asuransi, makanan, hingga listrik. Tekanan tersebut bahkan diperparah oleh ketegangan geopolitik, termasuk perang antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa waktu terakhir mendorong kenaikan harga bensin.

Keterjangkauan menjadi isu utama

ilustrasi kursi bayi (pexels.com/Yan Krukau)

Kondisi ini membuat banyak keluarga harus mengambil keputusan yang menyakitkan. Seorang pengelola pusat penitipan anak rumahan di negara bagian New York mengatakan banyak orang tua sebenarnya menginginkan layanan penitipan yang aman dan berlisensi, tetapi tidak lagi mampu membayarnya.

“Sebagai penyedia layanan penitipan anak, saya melihat langsung bagaimana mahalnya biaya ini memaksa keluarga membuat pilihan yang memilukan,” ujarnya dalam survei tersebut.

Tekanan keuangan juga dirasakan oleh para penyedia layanan. Seorang pemilik program penitipan anak rumahan di Indiana bahkan mengaku terkadang bekerja tanpa bayaran demi menutup biaya tambahan yang tidak mampu dibayar orang tua.

Di sisi lain, pusat penitipan anak juga tidak bisa sembarangan menaikkan tarif. Jika biaya terlalu tinggi, permintaan bisa langsung merosot tajam. Situasi ini berdampak pada kemampuan mereka merekrut dan mempertahankan tenaga kerja berkualitas.

Lebih dari separuh pemimpin program penitipan anak mengaku tidak mampu memberikan kompensasi yang cukup untuk menarik tenaga kerja berkualitas atau bahkan kekurangan staf. Para pekerja pada sektor ini juga menghadapi tekanan ekonomi yang sama.

Seorang pendidik anak usia dini di negara bagian California mengatakan ketidakpastian finansial membuatnya terus diliputi kekhawatiran.

“Secara finansial, saya terus khawatir tentang membayar sewa dan membeli bahan makanan. Itu mengganggu konsentrasi saya sepanjang hari,” ujarnya.

Masalah keterjangkauan ini semakin terlihat dari penelitian lain yang dilakukan oleh LendingTree. Studi pada Januari lalu menemukan bahwa rata-rata keluarga di Amerika Serikat tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membayar biaya penitipan anak secara nyaman.

Mengacu pada data dari Child Care Aware of America, biaya rata-rata tahunan untuk penitipan bayi dan anak berusia empat tahun mencapai sekitar US$28.190 secara nasional.

Padahal pedoman federal menyebut layanan penitipan anak dianggap terjangkau jika tidak melebihi 7 persen dari pendapatan rumah tangga. Untuk memenuhi ambang batas tersebut, sebuah keluarga perlu memiliki pendapatan sekitar US$402.708 per tahun.

Angka itu jauh di atas pendapatan rata-rata rumah tangga dengan dua anak yang hanya sekitar US$145.656 per tahun. Artinya, keluarga rata-rata membutuhkan kenaikan gaji hingga 176,5 persen agar biaya penitipan anak dapat dianggap terjangkau.

Kepala analis keuangan konsumen LendingTree, Matt Schulz, mengatakan angka-angka tersebut menjelaskan mengapa angka kelahiran di Amerika Serikat terus menurun.

“Dengan angka seperti ini, mudah melihat mengapa tingkat kelahiran menurun. Banyak orang Amerika merasa memiliki anak tidak lagi masuk akal secara finansial,” kata Schulz.

Ia menambahkan, dibutuhkan upaya bersama dari pemimpin politik dan dunia usaha untuk memperbaiki sistem pembiayaan penitipan anak di negara tersebut. Namun, perubahan besar kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Editorial Team