Jakarta, FORTUNE - Biaya layanan penitipan anak di Amerika Serikat kian melonjak hingga dinilai tidak lagi masuk akal bagi banyak keluarga. Lonjakan biaya operasional yang dialami penyedia layanan membuat tarif penitipan anak terus naik, sementara kemampuan finansial orang tua justru semakin tertekan.
Survei terbaru dari National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menunjukkan krisis keterjangkauan yang melanda konsumen juga menghantam sektor penitipan anak. Penyedia layanan menghadapi kenaikan berbagai biaya, mulai dari asuransi, sewa properti, hingga kebutuhan operasional sehari-hari.
Menurut warta Fortune, Senin (9/3), 68 persen penyedia layanan melaporkan premi asuransi tanggung jawab meningkat pada 2025, naik dari 46 persen pada 2024. Selain itu, 66 persen responden menyebut biaya asuransi properti juga naik, dibandingkan 45 persen pada tahun sebelumnya.
Tidak hanya itu, sekitar 44 persen penyedia penitipan anak mengaku biaya sewa atau kontrak tempat usaha meningkat—lebih tinggi dibandingkan 32 persen pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, mereka juga menghadapi tekanan kenaikan upah pekerja serta biaya makanan, perlengkapan, dan pemeliharaan fasilitas.
Dalam laporannya, NAEYC menyebut kondisi ini memaksa penyedia layanan mengambil keputusan sulit. Tanpa dukungan pendanaan publik yang memadai, mereka harus memilih antara menanggung kenaikan biaya sendiri—yang berisiko pada kelangsungan usaha—atau membebankannya kepada keluarga dalam bentuk kenaikan tarif penitipan anak.
“Ketika biaya-biaya ini meningkat tanpa adanya peningkatan pendanaan publik untuk menutup kesenjangan, program-program dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit,” demikian bunyi laporan tersebut.
Sebagian besar penyedia akhirnya menaikkan biaya untuk menutup kenaikan pengeluaran. Survei menunjukkan 65 persen pusat penitipan anak dan 51 persen program berbasis sekolah negeri telah menaikkan biaya pendidikan. Sementara itu, hanya 31 persen penyedia penitipan anak berbasis rumah yang melakukan hal serupa.
Namun, masalahnya, keluarga juga tengah menghadapi lonjakan biaya hidup lainnya seperti perumahan, premi asuransi, makanan, hingga listrik. Tekanan tersebut bahkan diperparah oleh ketegangan geopolitik, termasuk perang antara Amerika Serikat dan Iran yang dalam beberapa waktu terakhir mendorong kenaikan harga bensin.
