Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pelemahan rupiah berdampak terhadap masyarakat. Alasannya, struktur ekonomi Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.
Menurut Yusuf, sejumlah kebutuhan penting seperti pupuk, gandum, bahan baku obat-obatan, bahan bakar minyak (BBM), hingga pakan ternak masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya impor meningkat dan berpotensi mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
“Begitu rupiah melemah, cost naik dan pasti ditransmisikan ke harga konsumen, classic imported inflation. Justru desa yang paling rentan karena daya tawarnya paling terbatas,” ujarnya, Sabtu (16/5).
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, juga menyebut pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation (inflasi impor). Dampaknya terlihat pada kenaikan harga barang impor, bahan baku industri, dan biaya distribusi.
Tekanan tersebut dapat dirasakan masyarakat desa karena produk berbahan impor tetap digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk barang plastik dan elektronik.