Pelemahan rupiah meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik, terutama pada pasar obligasi dan likuiditas perbankan. Selisih imbal hasil aset rupiah dengan risiko pasar dinilai semakin tipis di tengah penguatan dolar AS.
Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, mengatakan tekanan depresiasi rupiah masih berpotensi berlanjut menuju rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.
“Kami memperkirakan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah,” ujar Lionel.
Pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri. Kondisi tersebut dapat memengaruhi inflasi domestik apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pasar mulai mencermati respons kebijakan Bank Indonesia. Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XI DPR RI, Gubernur BI Perry Warjiyo memberi sinyal perubahan arah kebijakan moneter.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” ujar Perry.
Ia juga menegaskan tekanan global membuat BI perlu menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan lebih agresif.
“Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Kalau tidak mau outflow, maka suku bunga domestik harus naik,” katanya.