Jakarta, FORTUNE – Pelemahan daya beli hingga melambatnya penjualan otomotif tak menyurutkan langkah ekspansi Adira Finance. Perusahaan pembiayaan di bawah konglomerasi Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) ini mengakuisisi Mandala Finance pada Februari 2024.
Tak lama berselang, Adira juga mencaplok tiga aset pembiayaan milik Arthaasia Finance.
Presiden Direktur Adira Finance, I Dewa Made Susila, menyatakan aksi korporasi ini penting untuk memenangkan persaingan yang kian kompetitif. Apalagi, ia menyadari bahwa jika dibandingkan perusahaan sejenis, ada satu bagian yang kurang dalam ekosistem Adira.
“Adira Finance itu satu-satunya multifinance yang lengkap segmen pembiayaannya. Masalahnya, kami tidak punya pabrikan saja. Strategi kami bergabung justru untuk bisa bermain di liga yang tertinggi itu,” kata Made kepada Fortune Indonesia.
Setelah akuisisi senilai Rp7,04 triliun, manajemen memutuskan untuk melebur PT Mandala Multifinance Tbk ke dalam PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Selanjutnya, Adira Finance dengan kode emiten ADMF bertindak sebagai entitas penerima merger dengan MFIN efektif pada 1 Oktober 2025.
Tak tanggung-tanggung, aset hasil merger Adira–Mandala diperkirakan mencapai Rp38,37 triliun. Dengan demikian, Adira Finance akan menghuni peringkat ketiga daftar leasing dengan aset terbesar di Indonesia, naik dua peringkat dari posisi sebelum merger.
Selama ini Grup Astra mendominasi sektor multifinance pada urutan satu sampai tiga melalui entitas: FIFGROUP, Astra Sedaya Finance (ACC), dan Toyota Astra Financial Services (TAF). Merger ini membuat Adira berada di posisi ketiga—di antara Astra Sedaya Finance (ACC), dan Toyota Astra Financial Services (TAF).
“Ini juga salah satu inisiatif agar kita tidak ketinggalan dari ‘toko sebelah’. Lebih baik mengejar daripada dikejar, bukan? Tujuan tetap, aspirasinya menjadi top three diukur dari aset dan produk,” kata Made.
Toh, konsolidasi ini lebih dari sekadar perkara gengsi. Menurut Made, pengambilalihan Mandala Finance adalah langkah strategis dalam transformasi model bisnis Adira Finance untuk memperluas jangkauan hingga ke wilayah timur Indonesia.
Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari Rp531,37 triliun pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan multifinance, 55,37 persen di antaranya masih mengalir di Pulau Jawa, dan 44,63 persen sisanya ke luar Jawa.
Bahkan jika dilihat lebih terperinci, pulau-pulau di bagian timur Indonesia seperti Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara hanya mendapat 11,1 persen dari total porsi pembiayaan.
Meski porsinya relatif kecil, angka tersebut menunjukkan kenaikan 7,4 persen secara tahunan (YoY) atau lebih tinggi dari pertumbuhan pembiayaan di Pulau Jawa yang hanya tumbuh sekitar 5 persen. Artinya, potensi pertumbuhan di kawasan ini dinilai masih cukup baik.
