OJK Proyeksi Pembiayaan Multifinance Tumbuh 7% Ditopang Segmen Modal Kerja

- OJK memproyeksi piutang pembiayaan multifinance tumbuh 6–8% pada 2026, dengan segmen modal kerja menjadi penopang utama karena meningkatnya kebutuhan pengadaan barang dan ekspansi usaha.
- Hingga Januari 2026, penyaluran pembiayaan baru mencapai Rp78,16 triliun, didominasi multiguna sebesar 47,47%, sementara pertumbuhan tertinggi tercatat di Papua Selatan berkat lonjakan pembiayaan alat berat.
- Pembiayaan kendaraan listrik naik 39,13% yoy menjadi Rp21,05 triliun seiring tren elektrifikasi, sedangkan pembiayaan roda empat total mencapai Rp229,43 triliun dengan pertumbuhan lebih tinggi pada mobil bekas.
Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi piutang pembiayaan multifinance mampu tumbuh 6–8 persen pada 2026. Proyeksi kenaikan tersebut utamanya ditopang oleh segmen modal kerja.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya, Agusman menilai tahun ini kebutuhan masyarakat dalam pengadaan barang atau jasa dan ekspansi usaha. Maka dari itu segmen modal kerja menjadi penopang multifinance.
"Proyeksi pertumbuhan piutang dinilai realistis dengan mempertimbangkan antara lain target industri dan kondisi perekonomian. Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko," ujarna dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3).
Adapun, hingga Januari 2026, penyaluran pembiayaan baru industri multifinance mencapai Rp78,16 triliun, didominasi multiguna dengan porsi 47,47 persen. Secara nominal, multiguna mencapai Rp37,10 triliun, investasi Rp18,72 triliun, dan modal kerja Rp17,04 triliun.
Berdasarkan wilayah, pertumbuhan tertinggi per Januari 2026 dicatat Provinsi Papua Selatan sebesar 116,09 persen secara tahunan, didorong peningkatan pembiayaan alat berat sebesar Rp484,69 miliar.
Agusman juga menyebut, pasar otomotif perlahan mulai pulih pada awal tahun ini, sehingga menjadi sinyal positif bagi pembiayaan kendaraan, dengan prospek pertumbuhan positif pada 2026.
Hingga Januari 2026, pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik mencapai 39,13 persen yoy menjadi Rp21,05 triliun, didorong peningkatan penjualan kendaraan listrik dan diperkirakan akan tetap tumbuh positif pada 2026 sejalan tren elektrifikasi kendaraan.
Pada periode 2022–2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80 persen yoy. Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan roda empat tercatat sebesar Rp229,43 triliun. Kendaraan roda empat bekas mencatat rata- rata pertumbuhan lebih tinggi sebesar 12,75 persen (YoY).
"Perusahaan dapat mengoptimalkan kedua segmen dengan memperluas jaringan dan menjaga kualitas pembiayaan," pungkas Agusman.


















