Jakarta, FORTUNE - PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana melakukan impor rangkaian kereta bekas dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan KRL Jabodetabek yang terus menghadapi peningkatan jumlah penumpang sementara rangkaian krl mengalami penuaan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan kebutuhan tambahan armada merupakan hal mendesak seiring pertumbuhan jumlah penumang harian. Kebutuhan pada 2026-2031 awalnya diproyeksi sekitar 1 juta per harinya. Namun, lonjakan yang tak terbendung, kini rata-rata penumpang KRL Jabodetabek mencapai 1,1 juta per hari, meningkat sekitar 11 persen pada 2026 dibandingkan semester I tahun lalu, dengan 1065 perjalanan per hari.
"Artinya memang untuk transportasi commuter, kereta menjadi pilihan iutama," ujar Bobby saat mengajukan impor KRL di Gedung DPR, Rabu (23/9).
Dengan asumsi awal tadi, kebutuhan trainset adalah 104 unit. Perhitungan tersebut mencakup kebutuhan operasional, cadangan 3 persen, dan perawatan 16 persen. Sementara jumlah sarana pada awal 2026 hanya 102 trainset. Ditambah lagi, sebagian kereta tua perlu dipensiunkan.
"Jumlah sarana awal tahun 102, rencana memensiunkan kereta trainset itu 13 tahun. itu rata-rata usia kereta kita sudah lebih dari 41 tahun," kata Bobby.
KAI memproyeksikan hal ini akan terus naik, dan memuncak pada 2029 karena pada saat itu sejumlah besar trainset diperkirakan telah mencapai usia sekitar 45 tahun.
"Ketika trainset-trainset kita ini sudah berumur 45. Ini kita sudah tidak deal, satu sparepart-nya sudah tidak ada. Yang kedua, secara metal dia sudah mulai fatigue," katanya.
