Comscore Tracker
FINANCE

Strategi Perbankan, Hadapi Kenaikan Giro Wajib Jadi 6,5%

BTN siap ekspansi dana murah.

Strategi Perbankan, Hadapi Kenaikan Giro Wajib Jadi 6,5%Ilustrasi Kantor Cabang BTN/ Dok BTN

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE - Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah untuk Bank Umum Konvensional (BUK) bakal dinaikan secara bertahap ke level 6,5 persen oleh Bank Indonesia (BI). Kenaikan tersebut cukup tinggi mengingat GWM bank saat ini masih berada pada level 3,5 persen. 

Menanggapi hal tersebut, tentunya perbankan telah menyiapkan berbagai strategi agar likuiditas miliknya tetap kuat di tengah penyaluran kredit ke masyarakat. 

Hal itulah yang akan dilakukan oleh ketiga bank plat merah yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero ) Tbk atau BTN, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). 
 

BTN siap ekspansi dana murah

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo kepada Fortune Indonesia menjelaskan, pihaknya akan secara berkala mengevaluasi kebijakan likuiditas bank dan pengelolaan sumber dana bank. Hal tersebut sebagai strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas. 

"Strategi utama adalah dengan terus ekspansi dana murah sebagai sumber utama likuiditas dengan mengoptimalkan jaringan digital ecosystem BTN," kata Haru di Jakarta, Senin (24/1). 

Selain itu, dalam mencukupi likuiditas, BTN juga bisa menjajaki berbagai opsi sumber pendanaan lain jika diperlukan seperti penerbitan obligasi dan pinjaman bilateral. 

Haru menilai, kenaikan GWM yang ditetapkan oleh BI sejalan dengan upaya pengendalian likuiditas yang tinggi di perbankan saat ini. Seperti diketahui, total Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN masih mengalami kenaikan 6,56 persen yoy menjadi Rp291,26 triliun per September 2021. 

Bank Mandiri pastikan likuiditas masih melimpah

Sementara itu, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha menyatakan, selama masa pandemi di tahun 2020 hingga 2022, likuiditas Bank Mandiri masih sangat ample atau melimpah. Hal ini terutama didorong oleh pertumbuhan DPK yang sangat baik. 

"Tercatat, hingga akhir November 2021 total DPK Bank Mandiri telah mencapai Rp 987,28 triliun. Posisi tersebut berhasil tumbuh sebesar 13,94 persen secara year on year (yoy)," kata Rudi kepada Fortune Indonesia (24/1). 

Menurutnya, setelah mempertimbangkan proyeksi pertumbuhan DPK dan Kredit pada 2022, ekses likuiditas Bank Mandiri masih sangat cukup untuk memenuhi kewajiban GWM yang akan naik secara bertahap mulai Maret 2022. 

"Bank Mandiri tentunya siap mendukung seluruh kebijakan BI sebagai otoritas moneter, dalam rangka mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional serta menjaga stabilitas makroprudensial," pungkas Rudi.

Ekspansi kredit masih jadi strategi BRI

Di sisi lain, BRI bakal tetap fokus pada straregi prioritas ekspansi pada tahun mendatang.  Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto menjelaskan, GWM secara gradual hingga level 6,5 persen  pada September 2022 akan berdampak pada percepatan normalisasi likuiditas perbankan menuju level pra-pandemi Covid-19. 

"Dengan didukung kebijakan makroprudensial yang akomodatif melalui penerapan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) dan penguatan kebijakan transaparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK), maka strategi ekspansi masih menjadi salah satu prioritas utama perbankan pada tahun 2022," kata Aestika kepada Fortune Indonesia, (24/1). 

Khusus di BRI, likuiditas berada masih dalam kondisi yang ample dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) di kisaran 83 persen. Sehingga Aestika meyakini masih terdapat ruang penyaluran kredit dan pembiayaan pada sektor riil. 

BRI juga optimistis kredit dapat tumbuh 8 persen hingga 10 persen secara Year on Year (YoY) di 2022. Optimisme pertumbuhan kredit ini didasari oleh 2 alasan utama, yakni likuiditas BRI yang dalam kondisi ample serta kecukupan modal pasca right issue dalam rangka holding ultra mikro. 

"Dari hasil right issue senilai total Rp 95,9 triliun tersebut, BRI mendapatkan cash senilai Rp 41 triliun," pungkas Aestika.

Related Articles