Comscore Tracker
FINANCE

Kebijakan Suku Bunga BI diprediksi Lebih Konservatif pada 2022 

Bunga acuan BI diprediksi kembali ke 3,75% pada 2022.

Kebijakan Suku Bunga BI diprediksi Lebih Konservatif pada 2022 Ilustrasi Bank Indonesia dalam Uang/Shutterstock E.S Nugraha

by Suheriadi

Jakarta,FORTUNE - Arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada tahun 2022 mendatang diprediksi bakal konservatif. Mengingat momentum pemulihan ekonomi masih terus berlangsung hingga tahun depan. 

DBS Group Research pun memprediksi Pemerintah serta pengambil kebijakan ekonomi lainnya akan memantau perkembangan dan mempertahankan aset domestik dari dampak perubahan kebijakan global. 

"Perkiraan kami (BI) lebih condong ke jalur konservatif, yaitu kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir 2022," kata Radhika Rao selaku Senior Economist DBS Group untuk Eurozone, India dan Indonesia melalui keterangan resminya di Jakarta,  Selasa (28/12). 

Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) tercatat telah mengalami level terendahnya pada 2021 di level 3,50 persen. Dalam setahun ini, BI hanya menurunkan bunga acuan sekali sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode Febuari 2021.

Bunga acuan BI diprediksi naik 75 bps di 2023

Radhika bahkan menyatakan, arah kebijakan BI diprediksi bakal lebih konservatif di 2023 dengan menaikan bunga  sebesar 75 bps. Namun demikian, hal tersebut tetap bergantung terhadap pemulihan ekonomi. 

"Ini untuk mempertahankan nilai tukar dan memastikan stabilitas keuangan," katanya. 

Radhika menambahkan, BI akan tetap memantau pergerakan bunga acuan dari
Bank Sentral AS (The Fed). Menurutnya, bilamana The Fed lebih agresif maka akan membuat BI lebih sigap untuk menaikan bunga acuan.

Rupiah diprediksi stabil di bawah Rp15.000/US$

Pihaknya juga memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap di kisaran
Rp14.000/US$ hingga Rp15.000/US$ pada 2022 dan 2023. 

"Pada 2022, kami memperkirakan dolar AS akan kuat secara global setelah kenaikan suku bunga Bank Sentral AS sebanyak dua kali, Namun, kenaikan suku bunga BI seharusnya meredam tekanan depresiasi terhadap rupiah," kata Radhika. 

Dirinya memprediksi akan ada peningkatan gejolak nilai tukar rupiah pada paruh pertama 2022. Oleh karena itu, peluang untuk menjaga pengaturan kebijakan tetap longgar akan mengecil. 

BI pun mencatat, nilai tukar rupiah sampai dengan 15 Desember 2021 masih depresiasi sekitar 1,97 persen secara year to date (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020. Meski demikan, depresiasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 3,93 persen (ytd), Filipina 4,51 persen (ytd), dan Malaysia 4,94 persen (ytd).

Inflasi jadi pertimbangan BI naikan bunga acuan

Sebelumnya, dalam acara webinar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta,  Gubernur BI Perry Warjiyo akan mempertimbangkan faktor inflasi dalam menaikan tingkat bunga acuan. Bahkan dirinya menyebut, akan tetap mempertahankan suku bunga sebesar 3,5 persen. 

"Pada kesempatan ini suku bunga 3,5 persen. Kami akan terus mempertahankan di tahun depan, sampai dengan ada tanda-tanda untuk kenaikan inflasi," kata Perry Jumat (24/12).

Sebagai informasi saja, BI mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2021 terjadi inflasi 0,37 persen month to month (mtm) sehingga inflasi IHK sampai November 2021 mencapai 1,30 persen (ytd). Secara tahunan, inflasi IHK tercatat 1,75 persen secara year on year  (yoy), meningkat dari inflasi Oktober 2021 sebesar 1,66 persen (yoy). 

Related Articles